Wednesday, December 03, 2014

Architectural Conservation Award Bandung by Dr. Dibyo Hartono

[No.346]
Judul : Architectural Conservation Award Bandung - Penghargaan Konservasi Bangunan Cagar Budaya
Penulis : Dr. Dibyo Hartoyo
Penerbit : Remaja Rosdakarya
Cetakan : I, 2014
Tebal : 274 hlmn
ISBN : 978-979-692-541-4


Kota Bandung yang pada bulan September lalu baru saja merayakan hari ulang tahunnya yang ke 204 di era tahun 1930-an selain dijuluki Parjis van Java juga dikenal  sebagai Ratu dari Pegunungan di Sebelah Timur. Bandung yang terletak di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut dan terletak di kaki pegunungan Tangkuban Perahu pada saat itu memiliki suhu yang sejuk (22-27 derajad celsius) sehingga sangat nyaman sebagai kota hunian. Karena itu Bandung tempo doeloe menjadi kawasan yang menarik bagi warga Eropa untuk tinggal di sana.

Di awal abad ke-20, kota Bandung memang telah direncanakan  sebagai kota hunian dan dikembangkan ke dalam beberapa kawasan kegiatan sosial budaya seperti kawasan Militer dan pemerintahan di pusat kota, kawasan tengah untuk kawasan perdagangan untuk masyarakat Tionghoa, dan utara untuk kawasan pemukiman dan villa bagi penduduk Eropa. Selain itu Bandung juga pernah direncanakan sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda!  Di tahun 1916, sebuah studi  lingkungan menyimpulkan bahwa kondisi dan kualitas fisik kota Batavia dinilai  kurang sehat dan tidak ideal sebagai pusat administrasi pemerintahan, oleh karena itu diusulkan untuk dipindahkan ke pedalaman yang udaranya lebih nyaman dan segar, dan Bandung menjadi salah satu alternatifnya. 

Pertimbangan tersebut ditanggapi dengan serius oleh Pemernitah Hindia Belanda, maka Bandung pun membenari diri, gedung-gedung  untuk menunjang andiminstrasi pemerintahan mulai dibangun, bahkan beberapa kantor adminstrasi sudah mulai dipindahkan ke Bandung. Sayangnya rencana tersebut akhirnya gagal, lantaran krisis global atau “malaise” di tahun 1930-an. Kendati demikian, pembangunan kota Bandung  oleh para arsitek kenamaan pada zaman itu terus berlanjut sehingga Bandung terus berkembang menjadi salah satu kota hunian yang sangat nyaman bagi warta Eropa.

Hingga kini bangunan-bangunan heritage peninggalan zaman kolonial Belanda masih banyak dijumpai di kota Bandung. Paguyuban Masyarakat Pelestarian Budaya atau Bandung Society for Bandung Heritage (Bandung Heritage), sebuah lembaga pengabdian masyarakat yang peduli dengan bangunan-bangunan bersejarah di Bandung mencatat ada lebih dari 300 bangunan yang termasuk bangunan cagar budaya yang hingga kini masih ada dengan berbagai kondisi, baik yang terawat maupun yang terbengkalai.

Diantara ratusan bangunan-bangunan era kolonial  tersebut ada 32 bangunan yang memperoleh penghargaan Pelestarian Bangunan Cagar Budaya 2011 dari Bandung Heritage. Dan untuk menyebarluaskannya kepada masyarakat maka kini terbitlah sebuah buku yang berjudul Architectural Conservation Award Bandung  - Penghargaan Konservasi Bangunan Cagar Budaya

Buku yang ditulis oleh Dr. Dibyo Hartono, pakar konservasi bangunan cagar budaya yang telah menyesaikan pendidikan Master dan Doktoral-nya di ITB Bandung ini berisi informasi detail berupa foto, tahun dibangun, arsitek, langgam/style, dan deksripsi arsitektural dan sejarah dari ke 32 bangunan peraih penghargaaan Pelestarian Bangunan Cagar Budaya.

Buku yang tersaji dalam dua bahasa sekaligus/bilingual (Indonesia & Inggris) ini dibagi dalam 5 bagian, bagian pertama /pendahuluan berisi pembahasan mengenai  Arsitektur periode Hindia Belanda, Art Noveou sebagai awal langgam arsitektur modern,  Awal, perkembangan, dan akhir  langgam Art Deco di kota Bandung, karya arsitektur ternama Maclaine Pont,   Peraturan Pelestarian Bangunan Cagar Budaya, Latar Belakang Pemberian Penghargaan Konservasi Arsitektur, nilai sejarah budaya, dll. 

Bagian Dua  yang membahas mengenai lokasi 32 Bangunan penghargaan menyuguhkan foto dan keterangan peta Tua Kota Bandung, Peta Rencana Perluasan Kawasan Kota Bandung Utara 1931, dan lokasi 32 Bangunan Dalam Enam Kawasan Bersejarah (kawasan Pusat Kota, Pecinan, Militer, Etnik Sunda, Villa, Industri). Kesemuaa bangunan peraih penghargaamn tersebut hanya ada di lima kawasan bersejarah (Pusat kota, Pecinan, Militer, Etnik Sunda, Villa), tidak satupun berada di kawasan Industri karena hingga saat diberikannya penghargaan (2011), Bandung Heritage belum menemukan bangunan cagar budaya yang telah dilindungi dan dirawat dengan baik di kawasan industri.

Di bagian tiga  disajikan ulasan dari 32 bangunan cagar budaya penerima penghargaan yang merupakan karya arsitektur terkemuka di zamannya seperti Maclaine Pont, Wollf Schoemaker, Frederik Aalbers, dll yang penyajiannya dikelompokkan berdasarkan kawasan bersejarah. Bangunan tertua yang mendapat penghargaan adalah Vihara Setya Budhi (1865) dan yang termuda, Balai Pertemuan Bumi Sangkuriang (1957).

Bagian ke empat berisi tentang Pameran dan Acara Pemberian Penghargaan yang merupakan dokumentasi acara pemberian penghargaan yang berlangsung pada tanggal 26  Februai 2011 yang lalu di gedung bersejarah  Indonesia Menggugat - Bandung. Dan terakhir di bagian ke lima yang berjudul Keindahan Masa Lalu yang Telah Hilang  kita akan disuguhkan ulasan dan foto dari bangunan-bangunan cagar budaya yang terbengkalai dan bangunan yang hancur sebagian atau seluruhnya  antara lain, Gedung Singer, Panti Karya, eks rumah tinggal Keluarga Wiranatakusumah III, dll.

Sebagai sebuah buku yang berisi informasi mengenai bangunan-bangunan cagar budaya yang hingga kini masih terpelihara dan dipugar dengan baik seusai dengan prinsip-prinsip konservasi yang baik buku tentunya merupakan sebuah sumber informasi yang sangat berharga. Ukuran buku yang besar dengan kualitas foto-foto berwarna yang tercetak dengan baik di atas kertas art paper membuat pembaca bisa menikmati keindahan bangunan-bangunan lama yang masih terpelihara dengan baik.



Dari segi foto, di buku ini pembaca tidak hanya disuguhkan foto fasad bangunannya saja, melainkan juga denah dan foto-foto bagian dalamnya  hal ini tentunya sangat bermanfaat bagi pembaca yang belum pernah mengunjungi bagian dalamnya terlebih bagi bangunan-bangunan yang kini di jadikan instalasi militer dimana tidak sembarang orang bisa melihat dan masuk melihat keindahan interior dalamnya.

Selain foto-foto bangunan di masa kini, disertakan juga foto-foto lama dari masing-masing bangunan, sayangnya dari ketiga puluh dua bangunan yang dibahas tidak semuanya menyajikan foto-foto lamanya. Walau ada beberapa bangunan yang masih sama seperti aslinya namun pemuatan foto-foto lama tentunya akan semakin meningkatkan unsur kesejarahan dan keekslusifan buku ini, apalagi kalau buku ini memuat foto-foto lama yang jarang dipublikasikan. Yang sangat disayangkan adalah tidak adanya foto lama Hotel Carcadine/Eks Hotel Surabaya yang kini hanya menyisakan sebagian dari bangunan lamanya saja.

Deskripsi arsitektural dan sejarah dari ketiga puluh dua bangunan yang dibahas juga cukup memadai walau ada beberapa hal menyangkut sejarah gedung yang luput dari penjelasan seperti misalnya Gd. Psikologi A.D  eks Villa Mei Ling yang tidak diberikan penjelasan mengapa dan siapa Mei Ling yang pernah memiliki dan tinggal di villa tersebut atau keterangan tentang penambahan satu lantai di Gd. UPPI Bandung / ex Villa Isola yang luput dari penjelasan.  Beberapa kesalahan cetak dan ejaan juga terdapat dalam buku ini, walau tidak terlalu mengganggu namun tentunya sangat disayangkan untuk buku yang telah dikemas dengan begitu baik ini.

Terlepas dari hal tersebut kehadiran buku yang ditulis oleh seorang pakar konservasi bangunan ini dapat mengisi kelangkaan buku referensi yang membahas asritektur kota Bandung. Buku ini juga dapat menambah khazanah pengetahuan kita tentang bangunan cagar budaya yang berada di kota Bandung. Dan yang utama semoga kehadiran buku ini juga menyadarkan dan menginspirasi kita semua untuk berbuat nyata melindungi dan melestarikan bangunan cagar budaya sebagai peninggalan budaya

@htanzil

Beberapa foto yang terdapat di buku ini : 


 Bangunan Hotel Carcadine (Eks Hotel Surabaya)


Pilar luar dan interioer dalam Gereja Bethel

Denah dan interior dalam Gd Psikologi AD (Ex Villa Mei Ling)

Masjid Agung Aloen Aloen  icon Bandung dan sejarah Islam Sunda yang telah hilang

###


3 comments:

obat ace maxs said...

just blogwalking.. Nice post and have a nice day :)

H.B. Touw said...

Dimana saya bisa mendapatkan buku ini?

Rosda Karya said...

Halo H.B. Touw, jika tertarik membeli bukunya kunjungi aja www.rosda.co.id
Terima kasih :)