Friday, January 09, 2015

Okultisme di Bandoeng Doeloe : Menelusuri Jejak Gerakan Teosofi dan Freemasonry di Bandung

[No.347]
Judul : Okultisme di Bandoeng Doeloe : Menelusuri Jejak Gerakan Teosofi dan Freemasonry di Bandung
Penulis : M. Ryzki Wiryawan
Penerbit : Khazanah Bahari
Cetakan : I, November 2014
Tebal : 163 hlm

Jika kita hanya membaca judul besar dan ilustrasi cover bukunya  tentunya kita akan mengira buku ini membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan ilmu sihir, gerakan pemujaan setan, atau dunia gelap spiritual karena dalam benak kita Okultisme memang sering diartikan dengan sesuatu yang mengerikan di dunia spiritual. Lalu apa sebenarnya definisi dari Okultisme?   

Okultisme merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, occultism. Kata dasarnya, occult, berasal dari bahasa Latin occultus ('rahasia') dan occulere ('tersembunyi'), yang merujuk kepada 'pengetahuan yang rahasia dan tersembunyi'.  

Okultisme adalah ilmu yang mempelajari pengetahuan tersembunyi yang terdapat dalam alam semesta, pada diri dan lingkungan kita. Tujuan akhirnya bagi praktisi okultisme adalah pemahaman dan pengertian yang sebenarnya tentang diri sendiri yang lebih tinggi yang kemudian akan menghasilkan pencerahan dan kebijaksanaan yang akhirnya akan mendekatkan diri pada sang pencipta. (Sumber : Wikipedia)

Berdasarkan definisi di atas maka dari sekian banyak organisasi maka Teosofi dan Freemansory termasuk dalam kategori organisasi Okultisme . Jika dilihat dari bahasa atau akar katanya maka masing-masing gerakan ini dapat didefinisikan sbb :

Teosofi  berasal dari kata Theos = Allah, dan Sophia = ilmu bisa diartikan sebagai Ilmu Allah (Hikmat Allah) yang ajarannya mengandung tiga hal utama yaitu filsafat, agama, dan ilmu.Gerakan ini berusaha menjembatani antara agama dan ilmu pengetahuan untuk menjawab pertanyaan dan fenomena di dunia.  
(hlm  17 )

 Freemasonry atau Vrijmetselarij dalam bahasa Belanda berarti "Perkumpulan Tukang Bangunan Bebas". Penggunaan istilah "mason" atau tukang bangunan memiliki sejarah panjang berkaitan dengan pemeliharaan rahasia-rahasia ajaran Freemasonry oleh kelompok-kelompok arsitek dan tukang bangunan dari zaman ke zaman. Kata "bebas" sendiri berarti mereka tidak terikat apapun. Sifat gerakan utama Freemasonry, yaitu kerahasiaan, kebatinan, dan pengorganisasian serta tolong menolong  (lm 74-75)

Buku ini secara khusus membahas sejarah gerakan Teosofi dan Freemasonry di Kota Bandung. Gerakan Teosofi yang diprakarsai oleh seorang janda keturunan Rusia bernama Helena Petrovna von Hahn atau lebih dikenal dengan nama Madame Blavatsky dan Kolonel Henry Stell Olcott yang juga merupakan seorang Freemasonry. Organisasi Teosofi berdiri secara resmi pada tanggal 17 November 1875 di New York.

Gerakan Teosofi dibawa masuk ke Hindia Belanda oleh seorang Jerman bernama Baron van Tengnagell yang mendirikan sebuah Loji (rumah perkumpulan/markas) di Pekalongan tahun 1883. Gerakan ini mulai eksis di Bandung sejak tahun 1908. Loji kelompok Teosofi di Bandung yang hingga kini bangunannya masih masih berdiri dengan kokoh adalah sebuah bangunan yang kini dikenal sebagai Gereja Katolik Bebas St. Albanus di Jl. Banda 26 - Bandung.

Loji Teosofi Bandung  yang kini menjadi Gereja Katholik Bebas St. Albanus 


Puncak kemajuan Gerakan Teosofi di Bandung adalah saat didirikannya kompleks perumahan Olcott Park pada tahun 1930 untuk menghargai  jasa salah satu pendiri dan mantan presiden Theosopical Society, Henry Steel Olcott (1832-1907). Kompleks ini berada di seputaran Jl. Merdeka yang kini menjadi Mall Bandung Indah Plaza.

Sedangkan Freemasonry sendiri secara resmi berdiri pada tahun 1717 di Inggris dan masuk ke Hindia Belanda pada tahun 1767 yang ditandai dengan pendirian Loji La Fidele Sincerite (Kesetiaan Ikhlas) di Batavia. Di Bandung sendiri jejak gerakan Freemansory terutama ditunjukkan oleh pendirian Loji St. Jan pada tahun 1896 di Logeweg Bandung. Berbeda dengan bangunan bekas Loji kelompok Teosofi yang hingga kini masih ada, Loji Sint Jan kini sudah tidak ada jejaknya lagi.

Pada tahun 1962, Soekarno  melalui Keputusan Presiden No.264 melarang adanya segala bentuk kegiatan Freemasonry. Setahun sebelumnya, entah atas dasar apa Soekarno juga memerintahkan pembongkaran bangunan Loji St. Jan.  Bertahun-tahun sebelum dibongkar Gedung Loji St. Jan itu terbengkalai. Mayarakat sekitar menyebutnya 'Gedung Setan'  karena konon berbagai upacara ritual asing dan aneh pernah dilakukan di bangunan tersebut  
(hlm 91-92)
Kini di bekas lahan Loji St Jan berdiri dengan megahnya Masjid Al-Ukhuwah. Arsitektur masjid ini konon juga menggunakan konsep segitiga sacred geometri dari arsitektur Freemasonry.

Selain membahas sejarah berdirinya Teosofi dan Freemasonry buku ini juga membahas mengenai kiprah dua gerakan ini di Bandung antara lain diadakannya kongges Tahunan Teosofi di Bandung pada tahun 1926 dan 1928. Para  Teosof  di Bandung baik secara kelompok maupun perorangan juga banyak melakukan kegiatan-kegiatan sosial seperti membantu resotrasi candi Borobudur, memberikan sumbangan dana untuk pencetakan buku-buku Braile, menjadi pelopor perayaan hari Waisak di Candi Borobudur, melakukan propaganda anti madat, dll.

Freemansory di Bandung pun tidak kalah sumbangsihnya dalam bidang-bidang sosial. Saat itu Freemansory  memang memfokuskan diri  pada kegiatan sosial antara lain membangun sekolah, memberi pinjaman usaha, dan  membangun perpustakaan umum De Openbare bibilotheek van Bandoeng di Kweekschool  pada tahun 1891 sehingga  perpustakaan ini menjadi salah satu perpustakaan terlengkap di Bandung dengan koleksi lebih kurang 2.500 buku.. Aksi Freemansory terkenal lainnya adalah memberikan sokongan dana bagi pendirian lembaga orang buta di Bandung pada tahun 1901 yang hingga kini masih berdiri.

Buku ini juga membahas mengenai tokoh-tokoh Teosofi dan Freemasonry yang terkenal di Bandung, dari  kelompok Teosofi antara lain Mr. Ong Soe An, A.J.H Van Leewuen, Kiai Haji Hasan Mustapa (Hoodfdpenghulu Bandung), dan Wangsaatmaja (sekretaris Hasan Mustapa). Sedangkan dari kelompok Freemasonry antara lain J.R De Vries, Keluarga Soesman, N. Beets (Walikota Bandung 1937-1942), R.A. Wiranatakusumah V (Bupati Bandung 1920-1931), Mas Sewaka (Gubernur Jawa Barat prd. 1947-1952), dan lain-lain

 Tokoh-tokoh Teosofi & Freemasonry asal Bandung 
(KH. Hasan Mustafa, RA Wiranatakusumah V, Mas Sewaka)

Selain itu dibahas pula Jejak-jejak Freemansory di Bandung berupa bangunan-bangunan era kolonial yang masih ada hingga kini seperti Kweekschool (kini Kapolwiltabes Bandung, Van Drop (kini gd. Landmark), Technische Hogelscool (kini ITB), dll. Selain itu buku ini juga dilengkapi dengan tambahan dua tulisan terkait Freemansory dan Teosofi  yang isinya tidak terpisahkan dari sejarah dua gerakan tersebut di Hindia Belanda yang masing-masing berjudul  "Gereja Katolik Bebas di Hindia Belanda 1926-1942" oleh Yasmin Nindya Chaerunissa, dan "Hinloopen Labberton - Peran Seorang Teosof dalam Pergerakan Nasional" oleh R. Indra Pratama.

Masih banyak bahasan menarik di buku yang juga dilengkapi dengan foto-foto yang tersaji dengan kualitas yang sangat baik ini. Berikut sub bab dalam buku ini yang terdapat di bagian Teosofi & Freemasonry

Teosofi : Apakah Teosofi itu, Gerakan Teosofi, Teosofi di Hindia Belanda, Bintang Timoer, Teosofi di Bandung, Ong Soe An, A.J.H. van Leeuwen, Teosofi di Priangan, Wangsaatmadja, Hasan Mustapa,  Teosofi, Gereja Katolik Bebas St. Albanus, - Lampiran : Surat Presiden Teosofi Internasional kepada pimpinan Teosofi di Bandung

Freemasonry : Sejarah Freemansory di Hindia Belanda, Hubungan Freemansonry dan Teosofi, Sejarah Freemansonry di Bandung, Tokoh Freemansory Terkemuka di Bandung, Jejak-jejak Freemasonry di Bandung, - Lampiran : Daftar anggota Loji Sint Jan Bandung tahun 1938

Tidak seperti buku-buku yang membahas Freemansonry di buku ini kita tidak akan menemukan kisah-kisah kontroversial, konspirasi global, intrik-intrik, kesan jahat atau kemisteriusan dari gerakan Teosofi dan Freemasonry, buku ini hanya membahas secara  ilmiah mengenai sejarah dan kiprah dua kelompok tersebut di Bandung. Kemisteriusan dua organisasi ini tidak nampak karena berdasarkan fakta sejarah yang digali oleh penulisnya  kehadiran Teosofi dan Freemasonry di Hindia Belanda berjalan secara terbuk.

Di Hindia Belanda, organisasi ini berjalan secara terbuka tanpa sembunyi-sembunyi seperti halnya di Eropa. Loji-Loji dan keanggotaan mereka dapat diketahui secara terang-terangan. Pada awalnya gerakan ini kebanyakan beranggotakan orang-orang Belanda yang berprofesi sebagai tentara, pelaut, dan mardjikers (budak yang dimerdekakan), lalu pada perkembangannya banyak juga orang dengan posisi penting di masyarakat maupun di pemerintahan bergabung menjadi anggota.  (hlm 76)

Saat itu kita bisa menemukan loji-loji tempat peribadatan mereka secara terbuka. Kita bisa mengakses perpustakaan mereka. Bahkan kita bisa menyekolahkan anak-anak kita di sekolah mereka. Setiap hari kita bisa bergaul dengan anggota Freemasonry yang menjadi tokoh-tokoh publik. Jadi, saat itu kegiatan Freemasonry yang sekarang kita anggap sebagai organisasi jahat rahasia penggerak organisasi "konspirasi global" tidaklah berbeda dengan kegiatan umat beragama lainnya. 

Karenanya tidak heran jika  Teosofi dan Freemasonry sempat berkembang dengan begitu pesat di Bandung. Contohnya Loji St Jan di Bandung termasuk yang terbesar anggotanya di Hindia Belanda, pada tahun 1929 terdaftar 238 anggota dari berbagai kalangan, mulai dari pegawai, pengusaha, hingga pejabat pemerintahan sehingga dari seluruh markas Freemasonry di Hindia Belanda  Loji di Bandung  ini diakui sebagai salah satu yang paling berhasil dalam perekrutan anggotanya.

Loji St. Jan

Lampiran Daftar Angota Loji St. Jant - Bandung

Sebagai sebuah buku yang membahas mengenai gerakan Teosofi dan Freemansory di Bandung buku ini bisa dikatakan cukup lengkap dan informatif. Sayangnya di  buku ini tidak ada halaman "Daftar Pustaka", padahal kehadiran halaman Daftar Pustaka dalam buku bertema sejarah seperti buku ini sangat bermanfaat dan memudahkan pembaca yang ingin menggali lebih dalam lagi perihal Teosofi dan Freemasonry melalui buku-buku yang dijadikan sumber penulisan buku ini. 

Selain itu dari segi judul dan cover, pemberian judul Okultisme dan ilustrasi sepasang mata yang mendominasi sampul buku ini saya rasa agak mengecoh calon pembacanya. Judul dan cover buku ini berpotensi membangun persepsi bahwa ini ada sebuah buku yang mengupas sisi-sisi kemisteriusan dan spiritualitas gerakan Teosofi dan Freemasonry. Mungkin ini trik untuk menarik minat pembaca namun saya rasa tanpa cukup dengan mencantumkan Freemansonry pada judulnya maka buku ini tetap akan membuat calon pembacanya penasaran.

Terlepas dari itu sebagai buku yang dimaksudkan untuk menambah khazanah ilmu pengetahuan tentang Bandung khususnya tentang sejarah gerakan Teosofi dan Freemasonry di Bandung saya sepakat dengan apa yang dikatakan penulis dalam kata pengantarnya bahwa buku ini diharapkan dapat memberikan fakta baru tentang kota Bandung serta dapat menjadi setitik pembuka tabir sejarah okultisme di Bandung yang jejaknya masih tersisa hingga kini.

@htanzil

3 comments:

Obat Herpes said...

salam kenal gan, ijin berkunjung dan berkomentar yaa
semoga artikelnya bermanfaat buat yang bacanya :)

potret buku said...

Wow, seru nih, ternyata Freemason pernah bercokol di Indonesia..

morgan hope said...

Hello Am Mrs, Morgan debra Am pemberi pinjaman pinjaman yang sah dan dapat diandalkan memberikan pinjaman
pada syarat dan ketentuan yang jelas dan dimengerti pada tingkat bunga 2%. dari
$ 12.000 untuk $ 7.000.000 USD, Euro dan Pounds Hanya. Saya memberikan Kredit Usaha,
Pinjaman Pribadi, Pinjaman Mahasiswa, Kredit Mobil Dan Pinjaman Untuk Bayar Off Bills. jika Anda
membutuhkan pinjaman apa yang harus Anda lakukan adalah bagi Anda untuk menghubungi saya secara langsung
di: morgan debra 1986@gmail.com
Semoga Tuhan Memberkati.
Salam,
Mrs Morgan debra
Email: morgandebra1986@gmail.com
Catatan: Semua balasan harus kirim ke: morgandebra1986@gmail.com