Monday, September 21, 2015

Merah Putih di Gedung DENIS

[No. 361]
Judul : Merah Putih di Gedung Denis - Catatan Tercecer di Awal Kemerdekaan
Penulis : Enton Supriyatna Sind & Efrie Christianto
Penerbit : Tatali
Cetakan : I, 2015
Tebal : 164 hlm
ISBN : 978-60-96971-4-8

Setiap kota memiliki kisahnya sendiri dalam album besar perjuangan bangsa ini. Kota Bandung sendiri sebenarnya memiliki banyak kisah heroik dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, yang paling dikenal dan diingat orang hingga kini adalah peristiwa Bandung Lautan Api (BLA) dimana rakyat dan pejuang-pejuang Bandung memilih untuk membumihanguskan kota Bandung daripada harus diserahkan kepada pihak sekutu sesuai dengan kesepakatan yang diambil pemerintah pusat. Namun di balik itu, ada peristiwa-peristiwa lain yang menjadi penyokong kejadian besar tersebut.

Salah satu peristiwa yang mendahului pembumihagusan Bandung adalah pengibaran bendera merah putih dan perobekan bendera Belanda di menara Gedung DENIS (De Eerste Nederlandsch-Indische Spaarkas atau PT. Bank Tabungan Hindia Belanda Pertama)  di jalan Braga  sekitar September-Oktober 1946. Pelakunya adalah Bari Lukman, Endang Karmas, dan Mulyono. Sayangnya peristiwa tersebut jarang diungkapkan secara memadai bahkan nyaris dilupakan orang saat ini. Kalaupun ada, catatan tentang peristwia tersebut hanya berupa kutipan pendek dari sebuah tulisan atau buku-buku yang membahas perjuangan rakyat Bandung.

Bersyukur kini sebuah buku yang secara khusus membahas peristiwa heroik di Gedung DENIS - Bandung yang serupa dengan peristiwa pengibaran bendera merah putih di hotel Oranje Surabaya telah hadir sehingga peristiwa ini bisa kembali terungkap di kalangan masyarakat Indonesia dan Bandung pada khususnya. Buku yang juga dilengkapi dengan puluhan foto-foto ini dibagi dalam tiga bagian besar yaitu  Hikayat Gedung DENIS,  Merah Putih di Gedung DENIS, dan Bukan Kabar Bohong.

Di bagian pertama dideskripsikan tentang sejarah berdirinya Gedung DENIS (kini kantor Bank BJB) yang merupakan karya pertama arsitek terkenal kelahiran Belanda A.F. Aalbers pada tahun 1936. Gedung yang berada di persimpangan Jalan Braga-Naripan ini hingga kini masih berdiri megah dan tetap dalam bentuk aslinya berupa "corak ombak samudera" yang serupa dengan corak bangunan Hotel Homan yang memang sedang trend saat itu.



NV DENIS sendiri didirikan oleh orang-orang  Boer  yang berkebangsaan Belanda yang memberontak melawan penguasa Inggris di Afrika Selatan. Setelah mereka bebas dari penjara, orang-orang Boer itu memilih tinggal di Hindia daripada pulang ke Afrika Selatan. Mereka tinggal dan mendirikan berbagai perusahaan di Bandung, antara lain BMC (Bandung Melk Centrale) - koperasi susu pertama di Hindia, dan mendirikan NV DENIS. Selain tentang gedung DENNIS di bagian ini dibahas pula sejarah jalan Braga, karya-karya Aalbers di Bandung, dan kota Bandung sebagai museum arsitektur dimana banyak bangunan-bangunan heritage karya arsitek-arsitek terkenal Belanda.

Di bagian kedua,  barulah buku ini secara khusus mengupas peristiwa heroik pengibaran bendera merah putih dan perobekan warna biru bendera Belanda. Pengibaran bendera merah putih di gedung DENIS yang saat itu  menjadi tempat favorit bagi warga Bandung untuk mempertahankan harga diri bangsa dilakukan oleh Bari Lukman pada tanggal 18 Agustus 1945 pkl. 13.00 wib. Itulah pengibaran bendera merah putih untuk pertama kalinya di Bandung setelah proklamasi dibacakan.

Sedangkan insiden perobekan bendera Belanda dsekitar bulan September-Oktober 2015 dilakukan oleh Endang Karmas dibantu beberapa temannya di tengah desingan muntahan peluru yang ditembakkan tentara Belanda dari Hotel Homan. Berikut kesaksian Endang Karmas yang dimuat di buku ini :

Sampai di atas itu, lalu megang tiang bendera sampai ke atas.......Lalu  terjadi tembakan. "Awas dari Hotel Homan," katanya. Wah panik, akhirnya tidak keburu apa-apa. Jangankan untuk membuka bendera, untuk membawa apa-apa pun tidak ada kesempatan. Untung saja bendera itu terkulai. Saya pegang ujungnya. 'Mul coba ambil nih..pegang..pegang! Nah saya buka bayonet Belanda, disobek-sobek aja gitu. Disobek-sobek hingga jadi warna merah putih lagi, tapi masih banyak birunya. Rusak gitu. (kain warna birunya tercabik-cabik,pen) (hlm 86)



Selain kisah dan kesaksian tentang pengibaran dan perobekan bendera di bagian ini juga bagian yang membahas asal mula ejekan "Peuyeum Bol" terhadap pejuang Bandung. Ejekan yang menyakitkan karena peuyeum dimaknai seagai lembek, tidak bersemangat, dan tidak memiliki daya juang. Ejekan tersebut awalnya dilontarkan oleh Radio Pemberontak Surabaya yang identik dengan Bung Tomo sehingga para pejuang Bandung saat itu menduga  kalau ejekan tersebut datang dari Bung Tomo. Benarkah? di bagian ini terdapat klarifikasi dari Bung Tomo yang menjelaskan  dari mana dan siapa yang mencetuskan istilah tersebut yang sebenarnya untuk membangkitkan semangat para pejuang Bandung. 

Masih di bagian ini, ada juga bab khusus tentang kronologi terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api. Lalu ada pula bab mengenai sejumlah koran dalam memberitakan perkembangan keadaan di Bandung masa itu dimana ada koran yang berpihak kepada republik dan ada pula koran-koran yang memuji-muji keberhasilan tentara Belanda dan menyebut para pejuang sebagai perusuh atau ekstrimis. 

Buku ini ditutup dengan bagian "Bukan Kabar Bohong" yang mengetengahkan berbagai kesaksian para pelaku  maupun mereka yang pernah menyaksikan insiden perobekan bendera Belanda. Bagian ini ditutup oleh pendapat sejarahwan Nina Herlina Lubis yang  menyimpulkan bahwa  walau terdapat berbagai versi dari para pelaku sejarah dan tidak adanya sumber tertulis/dokumen resmi yang mencatat secara rinci peristiwa tersebut bukan berarti peristiwa pengibaran dan perobekan bendera di Gedung DENIS adalah kabar bohong belaka.

Sebagai sebuah buku yang mengungkap kembali peristiwa heroik di gedung DENIS tampaknya buku ini sangat layak untuk diapresiasi oleh pembaca di masa kini. Selain itu, secara lengkap dan komprehensif penulis juga saja membeberkan peristiwa-peristiwa sejarah sebelum dan sesudahnya peristiwa di Gedung DENIS sehingga pembaca bisa memperoleh gambaran utuh bagaimana keadaan Bandung di masa revolusi kemerdekaan saat ini. Wawancara dari saksi-saksi sejarah yang masih hidup dan pengungkapan sumber-sumber tertulis baik yang pro maupun kontra terhadap peristiwa ini juga tersaji secara berimbang dan apa adanya sehingga pembaca dapat menyimpulkan sendiri apakah peristiwa tersebut memang benar terjadi atau hanya isapan jempol belaka.

Akhir kata apa  yang telah disajikan oleh penulis dalam buku yang menggali kembali kisah heroik di Gedung DENIS yang nyaris dilupakan orang ini sangat patut dihargai karena dengan cara itulah, bangsa ini, khususnya warga Bandung akan mengetahui peristiwa heroik yang pernah terjadi di salah satu bangunan heritage yang menjadi kebanggaan kota Bandung. Dengan mengetahui peristiwa sejarah yang pernah terjadi di kotanya bukan tidak mungkin warga Bandung akan semakin mencintai dan memelihara kotanya.

@htanzil

4 comments:

Asiaread said...

Hi kita dari Asiaread Indonesia.
Kita memiliki banyak digital book yang jumlah nya akan terus bertambah
yuk check website kita di http://asiaread.lib.overdrive.com

Kontak kita yaa di olivia@celexmedia.com or line id : olipelipio

untuk mencoba sistem digital library kita secara gratis :)

Ila Rizky said...

wah, ini ya, di braga ya, kak? baru tahu sejarahnya.

Lina Astuti said...

Wah.. Menarik sekali bacaannya. Saya agak susah baca buku genre ini.

adenjatra said...

keren bro ,