Tuesday, April 05, 2016

Sang Juragan Teh

[No. 363]
Judul : Sang Juragan Teh
Judul Asli :  Heren van de Thee
Penulis :  Hela S. Haase
Penerjemah : Indira Ismail
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, 2015
Tebal : 440 hlm ; 20 cm
ISBN : 978-602-03-2342-8

Teh bagi orang Indonesia adalah minuman kedua setelah air putih. Hampir di semua rumah makan mulai dari restoran mewah sampai warung-warung nasi di pinggir jalan selalu menyediakan air teh di samping air putih/mineral.

Walaupun teh begitu populer  dan ada banyak perkebunan teh didirikan di Indonesia namun tak banyak yang tahu bagaimana tanaman teh masuk ke Indonesia.  Tanaman teh pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1684, berupa biji teh dari Jepang yang dibawa Andreas Cleyer dan ditanam sebagai tanaman hias di Jakarta. Kemudian, pada 1827 tanaman teh mulai ditanam sebagai tanaman industri di kebun percobaan Cisurupan, Garut, Jawa Barat. Berhasilnya penanaman percobaan tersebut kelak membuka jalan bagi Jacobus Isidorus Loudewijk Levian Jacobson, seorang ahli teh, menaruh landasan bagi usaha perkebunan teh di Jawa.

Teh dari Jawa pertama kali diterima di Amsterdam pada 1835. Teh jenis assam mulai masuk ke Indonesia (Jawa) dari Sri Langka (Ceylon) pada 1877, dan ditanam oleh Rudolf Eduard (RE) Kerkhoven di  Gambung, Jawa Barat. Teh jenis assam yang ditanam tersebut ternyata cocok untuk iklim di Indonesia. Sejak itu pula, perkebunan teh di Indonesia berkembang semakin luas hingga sekarang sehingga budaya minum teh pun semakin populer hingga kini.

Dalam sejarah Perkebunan Teh di Indonesia nama  RE Kerkhoven (1848-1918 ) adalah salah satu perintis berkembangnya perkebunan teh di Indonesia. Sayangnya kini namanya kurang dikenal dan kalah pamor dengan sepupunya yang bernama RA. Bosscha yang pertama kali datang ke Hindia sebagai administratur perkebunan Teh Malabar. Siapa sebenarnya RE Kerkhoven dan bagaimana perjuangannya mengembangkan perkebunan Teh di Gambung, Jawa Barat hingga berpengaruh besar pada industri teh di Indonesia? Semua itu terkisahkan dalam novel berjudul Sang Juragan Teh.

Di novel yang pernah dimuat sebagai cerita bersambung di Harian Kompas pada tahun 1990  ini dikisahkan bagaimana Rudolf Kerkhoven yang baru saja menamatkan pendidikan teknik di Delft Belanda berniat pergi ke Hindia Belanda, mengikuti jejak sang ayah dan beberapa keluarganya yang membuka perkebunan di Hindia. Rudolf berniat meneruskan usaha perkebunan ayahnya  (Rudolph Albertus Kerkhoven)  di Arjasari, Jawa Barat.  Ketika niatannya terlaksana dan sampai di Hindia ternyata ia tidak diizinkan tinggal dan mengelola perkebunan teh milik ayahnya di Arjasari melainkan ia harus mencari dan membuka lahan baru. Untuk itu Rudolf magang di perkebunan milik pamannya, Eduard Kerkhoven di perkebunan Parakan Salak, Sukabumi.

Selepas masa magangnya Rudolf yang awalnya kecewa karena tidak mendapat kepercayaan dari ayahnya untuk bekerja di perkebunan milik ayahnya akhirnya membuka lahan perkebunan baru di bekas perkebunan kopi milik pemerintah di Gambung, Jawa Barat untuk dijadikan perkebunan teh. Bukan hal yang mudah karena ia harus membersihkan lahan yang telah menjadi hutan dan semak belukar dimana akar-akar bekas pohon kopi masih tertanam kuat di tanah.

Berkat kegigihannya bekerja dan membina hubungan yang baik dengan para pekerja pribuminya akhirnya lambat laun perkebunan tehnya menjadi semakin produktif. Ketika hasil jerih lelahnya mulai menampakkan hasil Rudolf merasa kesepian di tengah perkebunannya yang luas. Untuk mengatasi kesepiannya  ia memilih Jenny Roosegaarde Bisschop, buyut dari Gubernur Jenderal Daendels sebagai istrinya yang ditemuinya ketika ia berkunjung ke rumah adiknya di Batavia. Dari pernikahannya ini Jenny melahirkan lima putra dan putri bagi Rudolf yang semuanya lahir di Gambung. Namun bagi Jenny yang lahir dan besar di Batavia, hidup di perkebunan yang sepi dan lembab membuatnya bagai terbelenggu hingga kelak akan berpengaruh terhadap kondisi kejiwaannya.

Pertikaian keluarga terjadi setelah ayah Rudolf meninggal dunia. Setelah Rudolf berhasil membawa perkebunannya sukses, ia berniat membeli kepemilikan saham ayahnya atas perkebunan yang telah dikeolalnya. Sayangnya Niat Rudolf terhalang oleh tingginya harga saham Perkebunan Gambung yang diajukan oleh adik iparnya Henny.

Bagaimana jatuh bangunnnya Rudolf mendirikan perkebunan Teh Gambung disajikan secara detail dan menarik oleh Hella S. Haase (1918-2011), penulis Belanda yang lahir di Batavia. Suasana Hindia, khususnya Batavia, dan perkebunan teh Gambung beserta gaya hidup orang-orang Eropa di masa itu  terdeskripsi dengan baik sehingga pembaca seakan hadir dan larut dalam kisahnya.




Tokoh-Tokoh Terkenal

Pertalian  keluarga besar Kerkhoven dengan tokoh-tokoh terkenal lainnya pun berseliweran di novel ini, sebut saja Daendels, Douwes Dekker, KF. Hoole, RU Boscha, dll. Yang agak mengejutkan bagi pembaca mungkin tentang karakter Douwes Decker (Multatuli) yang ternyata dalam pandangan kelurga Kerkhoven tidaklah semulia apa yang kita kenal selama ini.

"Setelah ceramahnya selesai aku menyalami Dekker - Multatuli....Pria ini sama sekali tak cocok hidup di perkebunan. Kami kewalahan  bekerja di Parakan Salak, tapi ia tidak mau membantu sedikitpun. Ia berjalan-jalan saja dengan para wanita, atau duduk membaca di pojok, sama sekali tidak peduli pada perusahaan.....Dekker tukang berkhayal! Gadungan! Ia menginap di hotel mahal, tapi ketika tagihan datang, ia bilang dompetnya dicuri.....Ia meninggalkan istri dan anak-anaknya, bepergian kemana-mana dengan gundik, berceramah, bergaya bak pahlawan bagi orang Jawa. Mungkin saja apa yang ditulisnya bagus, tapi apa yang dicapainya dengan itu? Tidak ada apa-apanya bila dibanding dengan apa yang didapat oleh Karel Hole...." (hlm 52-53)

Jika  Douwes Dekker yang mendapat pandangan miring di tengah keluarga Kerekhoven, tidak demikian dengan Karel Frederik Holle (1825-1896), adalah perintis  perkebunan teh di Hindia Belanda yang membuka perkebunan teh Waspada, Garut.  Holle  dikenal memiliki hubungan yang sangat baik dengan penduduk pribumi karena sangat memperhatikan kesejahteraan pegawai dan penduduk di sekitar perkebunan. Ia juga sangat berminat pada sejarah dan kesusasteraan Sunda. Di novel ini Holle dikisahkan sebagai sosok yang dihormati baik oleh keluarga Kerkhoven maupun penduduk pribumi dan memiliki pengaruh besar bagi perkembangan perkebunan teh di Hindia.

Yang tak kalah menarik, ada pula tentang Daendels. Di novel ini penulis memasukkan pembelaan dari cucu sang Gubernur Jenderal yang terkenal dengan proyek Groote Postweg (Jalan Raya Pos) yang terbentang  antara Anyer - Panarukan sepanjang +/1 1.000 km yang banyak memakan korban jiwa.

"Ada banyak keburukan yang diceritakan mengenai kakek buyut kami, Gubernur Jenderal Daendels. Memang benar bahwa pembuatan Jalan Raya Pos memakan korban ribuan nyawa, namun menurut Papa, kakeknya adalah gubernur yang baik, dan semua itu akibat perlakuan keji para pembesar pribumi, yang tidak peduli apakah rakyat mereka hidup atau mati.....Yang tidak bisa kumengerti adalah mengapa Yang Mulia tidak turun tangan untuk membela para pekerjanya. Papa mengatakan bahwa kakeknya tidak bisa melawan kesepakatan-kesepakatan yang telah dibuat dengan para pembesar pribumi, dan bahwa ia tidak punya hak untuk ikut campur dengan cara bagaimana jalan itu dibuat." (hlm 221-222)

Bagaimana dengan tokoh pribumi? novel ini juga menyebut-nyebut Haji Hasan Mustafa, penghulu besar yang peduli akan sastra dan kebudayaan Sunda, sahabat Karel Holle. Selain itu muncul pula sedikit keterangan tentang anaknya, yaitu Raden Kerta Winata yang dideskripsikan sebagai seorang bangsawan yang cerdas dan menguasai bahasa Belanda

"Di rumah juga ada tamu yang menginap, Raden Kerta Winata, bangsawan muda Sunda, yang dulu murid sekolah pendidikan guru yang didirikan Karel Holle, dan ayahnya adalah penghulu Garut. Ia pemuda yang sederhana bertata krama baik, menguasai bahasa Belanda, dan sedang menerjemahkan berbagai buku untuk kepentingan sekolah: ia sudah menghasilan versi terjemahan Perjalanan Penuh Petualangan ke Hindia Timur karya Willem Bontekoe dalam bahasa Sunda, dan kini sedang menerjemahkan Robinson Crusoe karya Defeo dari edisi Belanda milik ayah Rudolf, yang menawarkan bimbingannya dengan imbalan pelajaran Bahasa Sunda." (hlm 147)

Setia pada Fakta

Sebagai sebuah novel yang mengangkat penggalan kehidupan seorang tokoh yang benar-benar ada tampaknya penulis setia pada fakta-fakta kehidupan keluarga Kerkhoven berdasarkan dokumen dan surat-surat pribadi keluarga Kerkhoven yang diperoleh penulis dari Arsip Perkebunan Teh dan Keluarga Besar Hindia.

Berbagai drama kehidupan yang terjadi pada tokoh utamanya memang benar-benar terjadi sehingga novel ini bisa dibaca sebagai sebuah biografi RE Kerkhoven. Namun sayangnya saking setianya pada fakta penulis tidak menghadirkan tokoh khayalan misalnya tokoh pribumi yang menonjol sehingga novel ini tidak terkesan Eropa sentris. Tadinya saya berharap penulis mengeksplorasi karakter tokoh Babu Engko, pembantu setia rumah tangga RE Kerkhoven. Sayangya karakter babu Engko tidak dieksplorasi secara mendalam jadi hanya terkesan sebagai tempelan saja.Padahal dengan  menghidupkan karakter Engko  novel ini akan menjadi lebih menarik karena dapat melihat pribadi Sang Juragan Teh dari sudut pandang seorang pribumi.

 Babu Engko bersama dua anak Rudolf  (Berta & Karel Kerkhoven)


Saking setianya pada fakta maka  kisah Sang Juragan Teh juga mengalir mengikuti apa yang  memang sesungguhnya dialami  Rudolf ketika membangun perkebunan teh Gambung. Bagi pembaca yang tidak memiliki latar belakang sejarah perkebunan atau yang sebelumnya tidak mengenal siapa itu Rudolf Kerkhoven mungkin akan terasa sedikit membosankan. Namun bagi mereka yang  menyukai sejarah maka novel ini sangat mengasyikan untuk dibaca karena melalui buku ini ada banyak hal yang dapat dipelajari baik itu dari sisi sejarah perkebunan Priangan, kehidupan pribadi Sang Juragan Teh beserta orang-orang yang bersentuhan dengan kehidupannya, maupun dari sisi budaya kolonial saat itu ; sebuah budaya yang terbentuk di era kolonial Hindia Belanda yang dalam beberapa hal masih terlestarikan hingga kini. 

@htanzil

7 comments:

jalanyuk said...

Bagus ini bukunya

vcc.putraeka.org

jalanyuk said...

Bagus ini bukunya

vcc.putraeka.org

Sri Debby Marpaung said...
This comment has been removed by a blog administrator.
Sri Debby Marpaung said...

Must have..
Sdh masuk dalam list buku yg hrs kubeli.
Thx buat referensinya ya.

Sri Debby Marpaung said...

Must have..
Sdh masuk dalam list buku yg hrs kubeli.
Thx buat referensinya ya.

Sri Debby Marpaung said...

Must have..
Sdh masuk dalam list buku yg hrs kubeli.
Thx buat referensinya ya.

Sri Debby Marpaung said...
This comment has been removed by a blog administrator.