Tuesday, September 05, 2017

SEPOER OEAP DI DJAWA TEMPO DOELOE

[No. 376]
Judul : Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doeloe
Penulis : Olivier Johannes Raap
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan : I, Juli 2017
Tebal :xx +271 hlm; 19 cm x 24 cm
ISBN : 978-602-424-369-2

Membicarakan sistem transportasi masal antar kota, antar provinsi di pulau Jawa tidak dapat dilepaskan dari kereta api, moda transportasi jarak jauh masal yang terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Kereta api di pulau Jawa sendiri telah memiliki sejarah yang sangat panjang. Hampir semua jalur kereta api yang kini digunakan merupakan jalur yang telah ada semenjak abad ke 19 yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda.

Jalur kereta api pertama di Indonesia dibuat di pulau Jawa pada tahun 1867 dengan rute Semarang - Tanggung yang berjarak 26 km yang dibangun oleh perusahaan swasta Nederlandsch-Indische Spoorwegmaatschappij (NIS) / Perusahaan Kereta Api Hindia Belanda. Di kemudian hari akan muncul perusahaan-perusahaan perkeretaapian lainnya. Salah satu yang akan mendominasi adalah perusahaan kereta negara Staats Spoorwagen (SS) yang kelak akan dinasionalisasi menjadi Djawatan Kereta Api (DKA) yang kemudian sekarang menjadi PT Kereta Indonesia (PT KAI)

Awalnya kereta api pertama  menggunakan tenaga uap yang dalam bahasa Belanda disebut spoor yang sebenarnya artinya adalah jalur kereta api. Namun bagi orang Jawa spoor diartikan sebagai kereta api yang kemudian oleh orang lidah orang Jawa  menjadi kosa kata baru, yaitu sepur. Buku ini mencoba menyelusuri keberadaan sepur uap/kereta api uap di Jawa tempo dulu melalui kartu pos yang terbit mulai dari thn 1900-an hingga berakhirnya era lokomotif uap di  tahun 1970an.

Buku yang memuat ratusan lembar kartu pos bergambar kereta api disertai deskripsi singkat namun informatif  tentang apa yang ada tiap lembar kartu pos  ini dibagi dalam 17 bab. Sebelum menyajikan uraian tentang kartu pos, penulis mengawalinya dengan sebuah pengantar tentang apa itu Sepur, sejarah awal perkembangan kereta api di Jawa berserta jaringannya, tempat pemberhentian kereta (stasiun, halte, stooplaats), jenis lokomotif, tentang kartu pos (produsen, perangko, cap pos), dan lain-lain.

Penyusunan buku ini dibagi berdasarkan lintas dan jaringan terbatas, yang dibangun di masa awal perkembangan kereta api oleh perusahaan kereta api yang beroperasi pada zaman itu dimana semua perusahaan memiliki sejarah dan sifat tersendiri yang menarik untuk didalami. Dengan demikian melalui ratusan kartu pos yang disusun secara komprehensif oleh penulisnya kita akan mendapatkan sejarah perkerataapian di Jawa melalui  kartu pos. Tak hanya kereta, penulis juga menyajikan bab khusus mengenai kartu pos bergambar  trem (kereta api ringan) yang ada di Pulau Jawa.

Dari setiap narasi yang ada di tiap lembar kartu pos kita akan melihat bagaimana penulis memiliki pengetahuan yang cukup mendalam akan sejarah dan jenis-jenis kereta api uap tempo dulu disertai pengamatan yang sangat jeli ketika mendeskripsikannya. Saking jelinya penulis bisa melihat dan menuliskan kode lokomotif, nama bangunan, dan menarasikan  semua hal-hal detail yang mungkin luput dari pengamatan kita.

Berdasarkan riset dan pengetahuannya, penulis juga mengoreksi keterangan yang salah yang tercetak di beberapa lembar kartu pos, misalnya salah penulisan lokasi, jurusan kereta api, dan sebagainya.  Tidak hanya itu, keterangan masih dibuka tidaknya  jalurnya kereta api, sejak dan sampai kapan lokomotif beroperasi, pabrik pembuatnya, dan di mana  lokomotif tua itu kini disimpan ada dalam setiap keterangannya. 

Ada berbagai hal menarik yang bisa diamati dalam kartu-kartu pos dalam buku ini, antara lain kartu pos bergambar stasiun Pasuruan yang dibuka pada 1878, stasiun tertua di Indonesia yang hingga kini masih aktif dan dilestarikan dalam keadaan aslinya. 

Stasiun Pasuruan dulu (kartu pos 1900an) dan sekarang


Selain menggambarkan  bangunan stasiun, kereta api, jembatan kereta api, lanskap indah jalur kereta, dan sebagainya, penulis juga menyajikan kartu pos bergambar kecelakaan kereta. Ada dua kartu pos bertema kecelakaan kereta yang tersaji dalam buku ini. Hal ini  menginformasikan pada kita bahwa di masa lampau kartu pos juga dapat berfungsi sebagai  sebuah berita dalam bentuk foto.

Kartu Pos Lokomotif terbalik (1920)

Dalam buku ini pada kartu pos Stasiun Semarang Jurnatan  terungkap juga bangunan Rijwielfabriek "Insulinde"  pabrik sepeda pertama di Hindia Belanda yang letaknya berdekatan dengan Stasiun Jurnatan. Pada keterangan kartu pos Stasiun Solo Jebres  terungkap bahwa stasiun Jebres juga dikenal sebagai Stasiun Solo Kraton dimana terdapat ruang tunggu khusus untuk Sri Sunan.

Pabrik Sepeda pertama di Hindia Belanda

Sebagian besar kartu pos dalam buku ini tersaji dengan warna sephia dan hitam putih namun ada pula beberapa kartu pos  berwarna sesuai dengan aslinya. Semuanya tercetak dengan sangat baik di atas kertas art paper yang mengkilap sehingga membuat  semua foto dalam buku ini menjadi tajam dan dikemudian hari kelak akan lebih awet tanpa terdistorsi oleh jamur, kelembapan, dll seperti jika dicetak menggunakan kertas biasa.

Sebagai sebuah buku yang secara spesifik menyajikan kartu pos bergambar kereta uap jaman dulu tentunya buku ini memberikan sebuah sumbangsih besar bagi pemerhati dan  pecinta kereta api khususnya kereta api uap tempo dulu.  Buku ini juga bisa menjadi  pelengkap buku-buku sejarah kereta api di Indonesia. Dan bagi mereka yang tergabung dalam komunitas heritage kereta api dan penelusur jalur-jalur kereta api yang sudah tidak aktif buku ini bisa menjadi sebuah panduan untuk penjelajahan mereka. 

Saat ini kartu-kartu pos kuno dari Indonesia menjadi barang yang sangat langka untuk diperoleh. Generasi orang yang yang dahulu pernah menerima dan menyimpan kartu pos mulai punah. Kalaupun ada mungkin hanya sedikit yang memilikinya sehingga generasi sekarang dan yang akan datang akan sulit menemukan atau bahkan sekedar melihatnya saja.

Apa yang dilakukan oleh penulis patut diapresiasi setinggi-tingginya. Sebagai seorang kolektor kartu pos kuno ia tidak hanya ingin menikmati sendiri ribuan koleksinya. Ia bagikan kartu-kartu posnya lewat buku-bukunya sehingga generasi kini dan generasi yang akan datang bisa mengetahui, mengenal bahwa kartu pos pernah begitu populer sebagai sebuah alat komunikasi. Tidak itu saja, melalui kartu pos kita juga bisa belajar dan mengenal sejarah yang terekam dalam tiap lembarnya.

Buku Sepoer Oeap di Djawa Tempo doeloe ini  adalah buku ke 4 Olivier  Johannes Raap, kolektor ribuan kartu pos kuno bertema Jawa yang sebelumnya telah menebitkan buku-buku sejenis (buku tentang kartu pos) yaitu Pekerja di Djawa Tempo Doeloe (2013), Soeka Doeka di Djawa Tempo Doeloe (2013), Kota di Djawa Tempo Doeloe (2015). 

 @htanzil

1 comment:

Paksrimo Dua said...

Buku mengenai kereta api masa lampau di Djawa khususnya memang selalu menarik, apalagi ditunjang dg foto-foto yang "baru", bukan foto copy paste yg sudah banyak beredar.