Tuesday, November 14, 2017

Nostalgia Bragaweg Tempo Doeloe 1930-1950

[No. 377]
Judul : Nostalgia Bragaweg Tempo Doeloe 1930-1950
Penulis : Sudarsono Katam
Penerbit : Pustaka Jaya
Cetakan : I, Maret 2017
Tebal : 154 hlm
ISBN : 978-979-419-461-4

 Jalan Braga adalah jalan  yang paling terkenal di kota Bandung. Jalan sepanjang 700 meter ini  telah ada sejak ratusan tahun yang lampau.  Bermula dari jalan kecil becek yang hanya dilewati pedati sehingga diberi nama Karrenweg (jalan pedati) secara bertahap menjelma menjadi sebuah kawasan pertokoan termegah di Hindia Belanda pada kwartal pertama abad ke 19.

Hingga kini masih banyak bangunan-bangunan kuno bersejarah yang masih tegak berdiri sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan lokal dan mancanegara. Walau kini tidak semegah masa lalunya, Braga tetap menjadi kawasan ikonik dan melegenda di kota Bandung sehingga tetap menjadi salah satu tujuan wisata  bagi mereka yang berkunjung ke kota Bandung. 

Buku Nostalgia Bragaweg Tempo Doeloe  karya Sudarsono Katam, penulis buku-buku tentang Bandung ini mencoba mendokumentasikan perkembangan kawasan sepanjang Braga dengan menyajikan  ratusan foto bangunan/toko-toko, potongan iklan yang pernah ada di Braga di masa-masa kejayaannya di tahun 1930-an hingga tahun 1950. Tidak hanya foto-foto, penulis juga memberikan keterangan dengan sangat lugas dan informatif.

Bagian pertama buku ini menyajikan penjelasan mengenai nama Braga yang hingga kini masih belum jelas asal usulnya, M.A. Salmoen, sastrawan Sunda berpendapat bahwa kata Braga diambil dari kata 'baraga' yang artinya jalan di tengah persawahan yang menyusur sungai karena awalnya kawasan Braga merupakan areal persawahan yang dilalui oleh sungai Cikapundung. Hal ini juga dikatakan oleh Haryoto Kunto yang mengatakan bahwa kata Braga diambil dari 'ngabaraga' yang artinya berjalan menyusuri sungai. 

Masih menurut Haryoto Kunto dalam bukunya "Wajah Bandoeng Tempo Doeloe", nama Karrenweg berubah menjadi Bragaweg akibat ketenaran perkumpulan tonel bernama Toneelvereneging Braga yang didirikan pada tahun 1882 di Karrenweg. Masyarakat Bandung mengagumi toneel ini sehingga menyebut Karrenweg sebagai Bragaweg dalam pembicaraan sehari-hari.

Di bab selanjutnya dijelaskan bahwa sebelum menjadi kawasan pertokoan, kawasan Braga merupakan kawasan perumahan. Toko pertama di Braga  didirikan pada 1894 oleh C.A. Hellerman yang hingga kini bekas bangunannya masih ada. Toko C.A. Hellerman menjual senjata api, kereta kuda, sepeda dan juga menyediakan reparasi senjata. Kehadiran toko CA. Hallerman kemudian diikuti oleh beberapa toko lainnya sehingga merubah kawasan Braga yang tadinya merupakan kawasan perumahan menjadi pertokoan.Dari tahun ke tahun Bragaweg semakin berkembang pesat terutama karena munculnya rencana pemindahan Ibu Kota Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung. 

Bragaweg yang kemudian menjadi pusat belanja barang mewah, eksklusif dan tempat bersantai para Preangerplanters, raja perkebunan mencapai puncaknya pada tahun 1930-an sehingga menjadi daya tarik para wisatawan asing serta merupakan salah satu unsur Kota Bandung mendapat julukan Parijs van Java. Kawasan Braga. Sedangkan  untuk kawasan Bragaweg mendapat julukan De meest Eropeesche winkelstraat van Indie (Kompleks pertokoan Eropa paling terkemuka di Hindia Belanda) 

Setelah membaca tuturan penulis tentang metamorfosis Braga dari kawasan perumahan menjadi pertokoan eksklusif yang juga dilengkapi dengan foto-foto lawas, secara berurutan buku ini mengajak pembacanya menelusuri Braga mulai dari Simpang Grote Postweg - Naripanweg - Gang Coorde - Bengkel Fuchs en Rens - Oud Hospitalweg.

Hampir semua toko yang pernah ada di sepanjang jalan Braga dari tahun 1930-150 dijelaskan  baik melalui narasi, foto-foto, maupun potongan iklan-iklan yang pernah dimuat di media cetak. Ada beberapa hal yang menarik yang dapat kita temui di bagian ini antara lain tentang Optik Kurt Shcasser & Co yang kemudian  menjadi A. Kasoem Optik. Di bagian ini dikisahkan sedikit tentang riwayat A. Kasoem (Atjoem Kasoem) yang pernah belajar tentang kacamata langsung dari Kurt Kascher hingga akhirnya menjadi pengusaha pribumi pertama yang membuka toko di Bragaweg.

Selain itu Satu hal yang menjadi pionir di kawasan Braga  adalah tercatatnya toko Java Store di
Dj. Braga 29A sebagai toko pertama di Bandung yang menghadirkan mesin fotocopy bermerek American Photocopy Company (Apeco) pada akhir tahun 1960-an.

Keeksklusifan toko-toko di Bragaweg terungkap dalam buku ini antara lain Toko Au Bon Marche yang menyediakan gaun-gaun mewah wanita dengan model terbaru dari Paris, Peransi, restoran Maison Borgerijen (sekarang Braga Permai) yang merupakan restoran satu-satunya di Hindia Belanda yang diberi izin untuk membuat kue khas kerajaan Belanda yaitu Koningin Emma Tart dan Willhelmina Taart. Lalu ada juga toko bunga terkenal  yaitu toko bunga Abuntandia yang penerima pesanan untuk mengirm bunga ke Istana Gubernur Jenderal Hindia Belada di Etlevreden (Gambir) Batavia setiap hari  menggunakan kereta api atau pesawat udara sejak tahun 1925 sampai tahun 1942.


( halaman dalam buku, foto dan keterangan yang informatif )

Di buku ini juga penulis mengoreksi apa yang pernah ditulisnya di buku-buku sebelumnya. Selain itu ada juga koreksi atas apa yang ditulis oleh Haryoto Kunto dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe yang menyatakan bahwa di lokasi bekas Gudang Garam yang terbakar habis sekitar tahun 1910 didirikan gedung de Javasche Bank (sekarang Bank Indonesia). Berdasarkan foto yang terdapat dalam buku ini terungkap bahwa sebenarnya  Gudang Garam terletak di sisis selatan rel kereta api, jadi tidak dijadikan lahan pembanungan de Javache Bank. Setelah terbakar habis, Gudang Garam dibangun ulang.

Tidak sekedar menampilkan perkembangan Braga lewat foto dan keterangan yang informatif saja, di bagian akhir buku ini penulis mengemukakan kritik berupa pendapat dan usulannya terhadap kondisi Braga di masa kini dan  masa yang akan datang. Berikut  ide atau masukan dari penulis tentang Braga yang ditulis di buku ini:

Jadikan Braga sebagai pusat kota dan landmark Bandung yang bercirikan budaya dan bernuansa Sunda, sehingga para pengunjung kawasan Braga bisa berbangga barang eksklusif, kala letih bisa duduk santai dengan tenang menikmati  panganan dan masakan Sunda.....sambil diiringi kecapi suling atau angklung dan memilih cenderamata khas Bandung. (hlm 135)

Pada intinya buku ini mengungkap bagaimana perubahan Braga dari masa ke masa, bermula dari sebuah jalan kecil yang hanya dilewati pedati, berdebu dan becek yang secara bertahap berubah menjadi sebuah kawasan perumahan lalu menjadi kawasan pertokoan termegah di kota Bandung bahkan di Hindia Belanda pada masanya.

Metamorfosa Braga ini tidak dapat dipisahkan dari dinamika kota Bandung dan merupakan sejarah kecil (petite historie) Kota Bandung, karenanya kehadiran buku ini sangat bermanfaat sebagai dokumentasi kawasan Braga dan bahan kajian bagi generasi sekarang maupun yang akan datang. Selain itu buku ini tentunya semakin memperkaya literatur tentang kota Bandung pada umumnya dan kawasan Braga pada khususnya.

@htanzil

No comments: