Wednesday, July 29, 2020

Pram dalam Kliping : Dari Maemunah, Intel Soeharto, hingga Pramis


No : [391]
Judul : Pram dalam Kliping - Dari Maemunah, Intel Soeharto, hingga Pramis
Penyusun : Deni Rachman
Penerbit : ProPublic.info & MenaraAPI
Cetakan : I, 2020
Tebal : xii + 281 hlm, 23 sx 19 cm
ISBN : 978-612-93907-0-9

Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikon. Ikon sastra sekaligus ikon pejuang keadilan, kemanusiaan bagi Indonesia. Namanya juga tak lepas dari kontroversi politik yang membuat Pram lekat dengan cap penulis ‘kiri’ yang membuat dirinya menjadi sangat eksotis dan menjadi mata air yang seakan tak pernah habis untuk ditulis di berbagai media. 

Pram juga selalu menjadi tambang emas bagi para penerbit-penerbit lokal karena biasanya buku-buku tentang Pram selalu akan laris manis diburu oleh para pembaca.  Tidak heran jika banyak terbit buku-buku tentang Pram baik itu buku kajian ataupun buku berisi kumpulan tulisan-tulisan tentang Pram.
Yang teranyar adalah buku yg diberi judul “Pram dalam Kliping – Dari Maemunah, Intel Soeharto, hingga Pramis”,  sesuai judulnya buku ini merupakan kliping tulisan-tulisan tentang Pram yang disusun oleh  Deni Rachman, pedagang buku lawas yang juga aktivis literasi di Bandung. 

Disela-sela kesibukannya berjualan buku dan aktif mengikuti berbagai diskusi literasi ia mendokumentasikan berbagai artikel  budaya, sejarah, sastra, perbukuan yang ada di koran dan media cetak  lainnya kedalam bentuk kliping-kliping tematik. Tidak berhenti di mengkliping, ia juga membukukan kliping-klipingnya dalam Seri Pustaka Kliping.

Sebagai pembaca dan penyuka karya-karya Pram, artikel tentang Pram pun tidak luput dari sasaran gunting dan lemnya sehingga terkumpullah kliping khusus tentang Pram yang kemudian ia bukukan setelah sebelumnya berhasil membukukan kliping Inggit Ganarsih dengan judul Kisah-Kisah Istimewa Inggit Garnasih, MenaraAPI, 2020

Buku Pram dalam Kliping berisi 19 kliping termasuk foto-foto ekslusif tentang Pram yang berasal dari artikel-artikel di media cetak dari tahun 1955-2006. Jika disarikan buku ini terdiri dari 4 bahasan utama yaitu tentang  Pribadi dan keluaga, seputar karya, wawancara, dan komunitas.  Selain itu ada bonus ekslusif berupa transkrip  Orasi Budaya Pram dalam memperingati Konperensi Asia Afrika dan Hari Buku Internasional di Pramoedya di Bandung tahun 2003. 

Sebuah cakupan yang lengkap karena dalam hal pribadi dan keluarga kita akan melihat sosok Pram sebagai seorang anak muda yang ‘menembak’ calon istrinya dengan unik, bagaimana Pram sebagai ayah dimata keluarganya, dan sebagainya. Tidak ketinggalan pula berita-berita seputar meninggalnya Pram termasuk detik-detik terakhir sebelum sang Maestro menghembuskan nafasnya.   

Dari Seputar karya kita akan melihat bagaimana karya-karya Pram dilahirkan dan diapresiasi oleh pembacanya termasuk tentang Mata Pusaran, salah satu karyanya yang hilang. Sebagian kecil naskahnya  pernah ditemukan dalam keadaan memprihatinkan di Kwitang, Jakarta. Hanya naskah itu yang terselamatkan hingga kini.   

Dari kliping yang berisi wawancara kita akan melihat bagaimana si pewawancara mengeksplorasi sang Maestro dalam hal pribadi, ideologi, pengalaman Pram di Pulau Buru, mimpi-mimpinya, dll.  Yang menarik dan eksklusif dan mungkin jarang diungkap di buku-buku lain adalah kliping yang didapat dari Majalah Horison tahun 2006 yang merupakan wawancara Taufik Ismail dengan H. Agus Miftach mantan lntel Suharto yang ditugaskan menqawasi Pram setelah Pram bebas dari pengasingan di Pulau Buru dan karya monumentalnya terbit. 

Dibagian ini  terungkap bahwa Pak Harto pernah meminta intelnya untuk diberikan satu set tetralogi Bumi Manusia dan meminta intelnya untuk menunggu sekitar 5 menit agar ia bisa membaca-baca sebentar.

Kemudian Presiden memegang-megang buku itum membalik-baliknya membaca sebentar. Selesai membaca Pak Harto bilang begini, “Wah bagus isinya ya Gus”. Betul-betullah dia Kaisar. Lima menit baca,  langsung menyimpulkan. Kemudian Pak Harto menandatangani sebuah memorandum yang menyatakan bahwa laporan Operasi Khusus mengenai Pramoedya Ananta Toer dinyatakan selesai.  (hlm. 145)

Satu hal yang mungkin sering ditanyakan orang adalah bagaimana keimanan Pram. Seperti dikatakan oleh Pram dalam sebuah wawancara, dengan tegas Pram mengatakan bahwa agamanya adalah Pramis!. Bagaimana sesungguhnya keimanan Pram?. Walau Pram tidak pernah menyatakan secara ekspilist dalam salah satu wawancara yang dimuat di buku ini terungkap bahwa Pram pernah naik haji ketika kecil, dibawa oleh ayahnya. Pram juga pernah belajar Islam dari Muhamad Natsir dan bercita-cita untuk membantu ayah mertuanya yang pertama untuk naik haji.  Yang menarik adalah pendapat Pram tentang tauhid. 

...konsep dalam Islam yang dilihatnya di Mesir tak tertandingi. Tauid dalam Islam tak ada kompromi. Sayang di Indonesia, kata Pram, sinkritismenya terlalu banyak. Dia menekankan  bahwa agama itu adalah tauhid, syariat, etos kerja, dan harga diri...
(hlm.131)

Di bagian Komunitas kita akan melihat bagaimana karya-karya Pram melahirkan Pamis-pramis yang membentuk komunitas-komunitas anak muda yang secara rutin membaca, mendiskusikan, menggelar berbagai kegiatan dalam mengenalkan karya-karya Pram kepada masyarakat luas hingga menyempatkan diri untuk sowan kepada Eyang Pram dirumahnya. Salah satu yang dikliping penulis dalam buku ini adalah berita dari Radar Bandung mengenai Klab Baca Pramoedya yang menggelar Lomba Baca Cerpen Pramoedya Ananta Toer bagi anak SMU yang diikuti 27 peserta dari 8 sekolah di Bandung dan Tasikmalaya. Ini membuktikan bahwa karya Pram telah mulai dikenal di kalangan pelajar sekalipun buku-buku  Pram bukanlah bacaan wajib anak SMU seperti di Malaysia. 

Untuk buku sejenis ini, pada tahun 2001 pernah terbit buku Pramoedya Ananta Toer berjudul Perahu yang Setia dalam Badai, Buku Leila 2001 yang berisi artikel-artikel baik yang pernah ditulis Pram maupun artikel-artikel tentang Pram. Dengan demikian walau bukan yang pertama buku ini bisa menjadi pelengkap dari buku sejenis yang pernah terbit hampir 20 thn yang lalu. 

Buku yang berasal dari kliping penyusunnya ini diberi judul Seri Pustaka Kliping : Pram Dalam Kliping, sayangnya dari segi lay outnya buku ini kurang memberikan nuansa kliping sehingga pembaca seperti membaca buku kumpulan berisi kumpulan artikel yang pernah dimuat di Koran atau majalah saja. Mungkin akan lebih baik jika lay out dan foto2 dalam buku ini didesain seperti layaknya sebuah kliping.  (Ketika review ini ditulis cetakan ke-2 buku ini terbit dengan lay out bernuansa kliping)

Telepas sedikit kekurangan dari segi lay out bukunya, buku ini layak diapresiasi buat siapa saja yang ingin mengenal siapa sosok Pram dan karya-karyanya. Buku ini bisa menjadi informasi awal tentang Pram bagi generasi milenial  yang belum mengenal Pram dan karya-karyanya.  Bagi mereka bukan tidak mungkin buku ini akan menumbuhkan keingian untuk membaca karya-karyanya yang sarat dengan pesan kemanusiaan dan keadilan bagi generasi muda dimasa kini. Sebuah generasi atau angkatan muda yang selalu diharapkan oleh Pram untuk memimpin bangsa ini dan  mendobrak ketidakadilan yang hingga kini masih dirasakan di negeri ini.

@htanzil

1 comment:

ravibooks.blogspot.com said...

Di sekolah negeri buku2 Pram mungkin tidak diperkenalkan, tapi di sekolah internasional/nasional plus buku Pram (Tetralogi Buru) menjadi bacaan wajib pada pelajaran bahasa Indonesia. Begitulah mutu sekolah kita...