Saturday, May 05, 2007

Nagabonar Jadi 2

Judul : Nagabonar Jadi 2
Penulis : Akmal Nasery Basral
Penerbit : PT. Andal Krida Nusantara (AKOER)
Tebal : 241 hal
Harga : Rp. 49.500,-

Beberapa tahun kebelakang dunia pustaka tanah air disemarakkan dengan novel yang didaptasi dari skenario film. Untuk novel adaptasi film Indonesia modern pelopornya adalah novel Biola Tak Berdawai (Akoer,2004) karya Seno Gumiro Ajidarma yang mengadaptasi skenario film arahan sutradara Sekar Ayu Asmara : Biola Tak Berdawai (2003). Setelah itu novel-novel adaptasi film terus bermunculan menyusul kesuksesan film-film yang diadaptasinya.

Pertanyaan terbesar yang selalu muncul ketika melihat novel adaptasi film beredar di pasaran adalah : “Samakah novel dengan filmnya ?”. Bagi yang tak suka membaca mungkin akan berkata, “ Buat apa beli bukunya? Nonton saja filmnya!”. Bagi masyarakat kita yang katanya memiliki tingkat membaca yang rendah dibanding negara-negara lain, sepertinya orang akan tertarik menonton filmnya dibanding membaca novelnya. Lalu kenapa harus dibuat novelnya ?

Tentunya selain untuk mendompleng kesuksesan filmnya, atau malah untuk sarana promosi filmnya, ada berbagai alasan mengapa novel-novel adaptasi film masih terus dibuat hingga kini. Apapun alasannya, hal ini tentunya membawa dampak positif dalam dunia perbukuan, antara lain dalam menambah jumlah ragamnya bacaan yang pada gilirannya akan turut menstimulasi gairah baca masyarakat.

Sebenarnya penulis novel adaptasi memiliki keleluasaan penuh dalam mengembangkan karyanya karena medium novel memiliki ruang yang lebih luas dalam mendeskripsikan karakter tokoh atau adegan-adegan yang sulit untuk divisualkan, atau menambah kisah-kisahnya untuk memperkuat plot dan memperlancar alur cerita.

Sayangnya dari novel-novel adaptasi yang telah diterbitkan, kecuali novel Biola Tak Berdawai, novel-novel tersebut umumnya tidak memberikan hal yang baru bagi pembacanya karena akhirnya hanya memindahkan naskah skenario menjadi sebuah novel. Untungnya hal ini tak terjadi dalam novel adaptasi skenario film terbaru : Nagabonar Jadi 2 karya Akmal Nasery Basral.

Novel Nagabonar Jadi 2 ini terbit saat filmnya masih diputar dan dalam waktu singkat telah ditonton oleh satu juta penonton Indonesia. Kini setelah novelnya beredar di toko-toko buku, pertanyaan mendasar soal kesamaan dan perbedaan antara novel dengan filmnya tetap menjadi hal yang selalu ingin diketahui oleh publik buku tanah air.

Untungnya soal perbedaan dan persamaan antara novel dan filmnya disinggung dalam Exordium (Kata Pengantar) novel Nagabonar Jadi 2 yang menyatakan bahwa novel ini memiliki kesamaan dalam hal nama dan karakter tokoh, alur cerita, peta konflik, sampai akhir kisah. Dan yang menjadi perbedaan fundamentalnya adalah : perbedaan cara pandang. Jika filmnya dinarasikan menurut sudut pandang orang ketiga, maka novelnya menggunakan pendekatan orang pertama sebagai pencerita, yaitu Nagabonar sendiri. Hal ini mengingatkan kita pada novel Biola Tak Berdawai yang mengambil sudut pandang yang berbeda dengan filmnya

Kisah dalam novel ini dibuka persis sama dengan filmnya yaitu deskripsi perkebunan kelapa sawit milik Nagabonar. Dikisahkan Nagabonar sedang berada di pusaran ketiga orang yang disayanginya : Emak, Kirana, dan Bujang. Ia bermaksud pamitan pada mereka karena sebentar lagi Bonaga, anak semata wayangnya yang telah menjadi pengusaha sukses akan menjemputnya untuk menuju Jakarta.

Awalnya Nagabonar tak mengetahui maksud sebenarnya Bonaga mengajaknya ke Jakarta. Sesampai di Jakarta barulah Bonaga mengutarakan maksudnya mengajak ayahnya ke Jakarta adalah untuk menyampaikan keinginannya untuk membangun sebuah resort di perkebunan sawit milik ayahnya. Tentu saja hal ini ditolak mentah-mentah oleh Nagabonar karena di perkebunan itu terdapat ketiga kuburan orang-orang yang dicintainya. Apalagi ketika mengetahui bahwa calon investornya adalah orang-orang Jepang, bangsa yang dimusuhi oleh Nagabonar semenjak jaman perjuangan dulu

Selain konflik soal perkebunan kelapa sawit ada pula kisah cinta antara Bonaga dan Monita. Sebetulnya mereka saling mencintai, namun Bonaga yang dibesarkan tanpa sentuhan seorang ibu mengalami kesulitan untuk menyatakan cintanya secara langsung pada Monita, padahal pernyataan cinta inilah yang ditunggu-tunggu Monita sebagai seorang wanita.

Diantara dua konflik tersebut dikisahkan juga kisah perjalanan Nagabonar berkeliling Jakarta dengan bajay yang dikemudikan Umar yang kelak akan menjadi sahabatnya selama di Jakarta. Pada deskripsi inilah banyak terjadi kelucuan dan kritik-kritik Nagabonar terhadap kehidupan sosial di Jakarta. Antara lain soal bajay yang tidak boleh masuk kawasan protokol, patung Jendral Sudirman yang menghormati mobil2 yang berseliweran di depannya, sikap para pemakai jalan di Jakara, arti kepahlawanan, dll.

Seperti filmnya, novel ini sebenarnya penuh dengan pesan-pesan humanis yang membumi, namun karena ditulis dengan lancar dan dikemas dalam bentuk dialog-dialog yang umunmya dibumbui dengan humor cerdas membuat pesan-pesan yang disampaikan menjadi menarik dan untuk disimak karena terkesan tak menggurui.

Tidak ada tokoh antagonis dalam novel ini, namun bukan berarti kisahnya menjadi tak menarik, karena yang menjadi antagonisnya justru aneka peristiwanya itu sendiri yang pada intinya merupakan kisah pertentangan pemikiran antara generasi Nagabonar dengan generasi Bonaga yang kelak akan berujung kepada kesadaran mengenai arti penting cinta dan keluarga bagi si anak.

Lalu kembali pada petanyaan diatas. Apa yang membuat novel ini berbeda dibanding filmnya ? Menurut mereka yang telah menonton filmnya dan membaca buku ini, buku ini tetap mengundang gejolak emosi yang membuat pembacanya tertawa dan menitikkan air seperti halnya jika menonton filmnya. Walau plot, karakter dan ending novelnya sama seperti filmnya, novel ini lebih lengkap dibanding filmnya.

Tidak seperti novel-novel yang diadaptasi dari skenario film lainnya yang umumnya hanya memindahkan naskah skenario apa adanya kedalam sebuah novel. Pada novel ini ada perbedaan yang cukup signifikan. Selain perbedaan sudut pandang yang telah disebutkan di atas, novel ini juga menyajikan ‘kedalaman’ dibanding filmnya, terlebih dalam hal monolog tokoh Nagabonar yang tentunya semakin memperkuat karakter Nagabonar dibanding filmnya.

Selain itu ada juga kisah-kisah lain yang tak terdapat dalam film seperti kisah bagaimana Nagabonar mendapat pangkat Jenderal dan dialog antara Lukman dan Nagabonar soal sastrawan angkatan 45 : Idrus, yang menulis cerpen “Surabaya” dan “Corat-coret di bawah tanah”. Bagian ini menarik, karena pembaca yang tidak mengenal karya-karya idrus sedikit banyak akan mengetahui isi cerpen yang membuat Idrus terkenal karena berisi kritik Idrus pada mereka yang di awal-awal kemerdekaan disebut sebagai pahlawan.

Yang mungkin agak disayangkan adalah novel ini tak mendeskripsikan lebih dalam bagaimana perjuangan Nagabonar yang setelah ditinggal mati orang-orang yang dikasihinya harus membesarkan Bonaga seorang diri sambil mengusahakan perkebunan kepala sawitnya, bahkan bisa menyekolahkan Bonaga hingga S2 di Inggris. Memang ada beberapa narasi yang menyinggung kisah ini secara singkat, seandainya kisah ini digali lebih dalam lagi, hal ini akan bermanfaat untuk memberi gambaran pada pembacanya bagaimana karakter Nagabonar dan Bonaga terbentuk hingga menjadi seperti sekarang.

Dari segi kemasan, novel ini dikemas dengan sampul yang sama dengan poster filmnya. Namun uniknya, tidak seperti pada poster filmnya dimana Nagabonar (Dedy Mizwar) dan Bonaga (Tora Sudiro) disatukan, di novelnya justru dipisahkan sehingga pembeli bisa memilih novel dengan sampul foto tokoh mana yang akan mereka pilih, Bonaga atau Nagabonar ? Satu langkah pengemasan yang cerdik karena memberi kesempatan calon pembeli untuk memilih sampul novel sesuai dengan yang dikehendakinya.

Sayangnya dari segi lay out isi, tampaknya penggunaan hurufnya terlalu kecil, sehingga menganggu kenyamanan membacanya. Entah mengapa novel-novel yang diterbitkan AKOER kini cenderung menggunakan huruf-huruf yang bagi sebagian orang tampak terlalu kecil. Hal ini tampak di dua terbitan AKOER sebelumnya yaitu Saraswati (2006)– Kanti W Janis, dan Digitarium (2006) – Baron Leonard yang juga menggunakan ukuran huruf yang lebih kecil dibanding novel-novel pada umunya.

Namun dari segala kelebihan dan kekurangannya, bagi yang belum menonton filmnya, novel ini sangat baik untuk dijadikan bekal sebelum menonton filmnya. Bagi yang telah menonton filmnya, novel ini tetap memberikan kenikmatan dalam membacanya karena dapat melengkapi apa yang telah ditontonnya.

Sama seperti yang diungkap dalam sinopsis filmnya di situs resmi film Nagabonar Jadi 2 (www.nagabonar.com ) , kisah Nagabonar Jadi 2 memberikan pesan pada pembacanya tentang : CINTA laki-laki dan perempuan, CINTA orangtua dan anak, CINTA dalam persahabatan, CINTA tanah air, termasuk CINTA dalam melihat “perbedaan”. Dan juga seperti yang selalu diungkapkan oleh Dedy Mizwar dalam setiap promo filmya, kisah ini mengajak kita semua untuk melihat Indonesia dengan hati.

@h_tanzil

6 comments:

Afrizal Anoda said...

Salam,
Aku tidak menonton film NJD dan juga tidak Nagabonar produksi 1986. Tapi ketika membaca bahwa ada dialog Nagabonar dengan Lukman bicara soal karya Idroes, aku terhenyak kaget. Kapan dia berdiskusi dengan Lukman? Setelah Bujang mati apa sebelum 'kekasihnya' itu dikubur? Nagabonar bicara soal karya sastra? Bagaimana bisa? Nagabonar itu buta huruf. Disuruh belajar mengaji oleh Emaknya tapi ia mencopet. Sekolah rumpun bambu saja tidak tamat. Substansinya, Nagabonar bukan pemikir karena ia tidak mau berpikir, "Kalau kau berpikir, aku juga ikut-ikutan berpikir. Kalau aku berpikir, apa kata dunia?!" ujar Nagabonar pada Lukman dalam Nagabonar (1986). "Kau kan tahu, aku tidak bisa membaca. Jadi begitu aku lihat di peta itu ada yang robek, aku tunjuk saja itu. Ah, tak tahunya dapur Emaknya yang aku tunjuk!" penjelasan Nagabonar pada Lukman sehabis berunding dengan utusan Belanda di perkebunan karet. Nagabonar itu lebih banyak bertindak sesuai instinknya, spontan, dan lugu. Jangan artikan dialog Naga ke Bujang, "Kita ini kan seniman, Jang," sebagai pemahaman dirinya terhadap karya seni. Mencopet, itulah seni yang ia ketahui. Sedangkan sajak yang dibacanya berdua Kirana di atas puncak bukit setelah melumpuhkan serdadu Nica dan Belanda, adalah karya Kolonel Pohan, orang yang sangat disegani Nagabonar. Menurut aku, buku Nagabonar ini tidak lebih dari promosi paralel bagi film NJD yang didesain oleh Deddy Mizwar. Sedangkan Nagabonar (1986), dipromosikan lewat artikel-artikel khusus yang ditulis Tenaga Publikasi, sepanjang minggu, sepanjang bulan, sampai film itu tayang di bioskop tahun 1987.

Fio said...

Menurut kuw film nagabonar jadi 2 aj udh buaaagusssss banget apalagi novelnya!

Fio said...

Menurut kuw film j udh keren plg novel mntp

Anonymous said...

Menurut gw, Nagabonar jadi 2 itu bagus banget buat nunjukin culture bangsa indonesia, banyak dari adegan-adegannnya yang mengandung kecintaan nagabonar sama Indonesia. Sejak pindah dari indonesia ke negeri seberang, nonton nagabonar jadi dua bikin gw makin cinta sama indonesia and mengerti kenapa kita harus bangga akan indonesia.

Aden Fauzi said...

thx buat yang share... lumayan buat tambahan resensi.. lagi cari" bahan..
klo ttg bukunya,..
seru abiss,, kisah ttg perbedaan pemikiran pada generasi nagabonar n generasi bonaga yg bikin novel niee keren bangett... thx sekali lagii..

Putra Sulbar said...

Semuanya bagus baik Film ataupun Novelnya, mantap