Monday, January 30, 2012

CLARA'S MEDAL


[No. 285]
Judul : Clara's Medal
Penulis : Feby Indirani
Penerbit : Qanita
Cetakan : I, September 2011
Tebal : 474 hlm

Apa jadinya jika 16 orang remaja jenius dalam bidang fisika dengan berbagai karakter dan latar belakang budaya yang berbeda berada dalam sebuah asrama selama 4,5 bulan untuk dilatih guna mengikuti Olympiade Fisika Internasional?.

Mereka digodok dalam pelatihan superintensif dengan materi yang nyaris setara dengan bobot delapan semester masa perkuliahan. Selain itu merekapun harus bersaing satu dengan yang lain karena dari 16 peserta pelatihan, hanya 12 peserta terbaik yang akan diberangkatkan ke Olympiade Fisika Internasional di Singapura.

Gambaran kehidupan para remaja yang digembleng dalam kawah Candradimuka itulah yang menjadi latar dalam novel Clara’s Medal karya penulis/jurnalis muda Feby Indirani. Kisah yang terinspirasi dari kisah nyata kehidupan asrama pelatihan bagi peserta tim Olympiade Fisika Internasional ini semakin menarik karena tokoh utamanya adalah Clara, satu-satunya peserta wanita dalam asrama tersebut.

Clara sendiri adalah putri dari Bram Wibisono, fisikawan terkenal, lulusan program master dan doctoral di Amerika yang bersama sahabatnya, Prasetyo (Tyo) mendirikan FUSI (Fisika Untuk Siswa Indonesia). Lembaga yang berfokus pada pengajaran dan pelatihan fisika bagi pelajar-pelajar Indonesia yang kegiatan utamanya adalah membina tim Indonesia untuk berlaga di kompetisi-kompetisi fisika Internasional.

Karena tumbuh besar dalam lingkungan keluarga ilmuwan fisika dan aktivitas ayahnya sebagai pengelola FUSI maka dalam diri Clara terbentuk obesesi bahwa suatu saat nanti ia harus berlaga di Oympiade fisika Internasional dan pulang membawa medali kemenangan. Obsesinya ini menjadi kenyataan karena tanpa campur tangan ayahnya ia mampu melewati berbagai seleksi dari jenjang terendah hingga nasional sehingga ia terpilih untuk mengikuti seleksi akhir di asrama FUSI bersama ke 15 peserta lainnya.

Di asrama Clara harus bersaing dengan sesama peserta lain, sebagai satu-satunya peserta wanita saja sudah merupakan tantangan tersendiri baginya, dapatkah ia menyesuaikan diri dengan ke 15 peserta pria lain dengan berbagai karakter dan latar belakang?

Persaingan ke 16 peserta diwujudkan dalam tes evaluasi mingguan dimana hasil dan progress kemajuan masing-masing peserta dapat diketahui dengan peringkat nilai mingguan. Sayangnya ketika persaiangan semakin panas, Bagas kedapatan menghack situs kepolisian dengan menampilkan kata-kata protes mengenai kinerja kepolisian yang buruk dan korup. Tindakannya ini membuat Bagas harus masuk dalam penjara dan akibatnya nama lembaga FUSI tercoreng dan menjadi sorotan.

Karena kasus ini para pendonor FUSI mulai menarik dukungan dana mereka. Tim Olympiade Fisika terancam gagal berangkat karena kekurangan dana. Bisa dibayangkan bagaimana ketar-ketirnya pengelola dan para peserta yang sudah berjuang mati-matian hingga titik ini. Jika tim ini gagal breangkat maka segala usaha FUSI dan kerja keras para peserta selama berbulan-bulan menjadi sia-sia.

Novel setebal 474 halaman ini sangat menarik untuk disimak. Dengan kalimat –kalimat yang mengalir, enak dibaca sehingga memiliki rentang pembaca yang luas mulai dari pembaca remaja hingga dewasa melalui novel ini pembaca diajak meneropong bagaimana sebenarnya kehidupan para remaja berprestasi ini selama mereka berada dalam rumah asrama. Ke 16 peserta dengan latar belakang dan karakter yang berbeda-beda membuat kisah dalam novel ini menjadi seru, belum lagi ditambah Clara sebagai satu-satunya peserta wanita di rumah asrama yang membuat kisah kehidupan dalam asrama menjadi lebih hidup dengan sedikir nuansa romantisme remaja yang juga menghiasi novel ini.

Di novel ini saya rasa penulis berhasil menggambarkan kehidupan di asrama dengan begitu hidup dan apa adanya. Walau semua penghuni asrama adalah remaja-remaja jenius namun bukan berarti mereka baik-baik saja. Di novel ini akan tergambar bahwa mereka bukanlah manusia sempurna yang ‘pede’ karena kepintaran mereka, ada sisi-sisi gelap, ketakutan, dan kekonyolan-kekonyolan mereka yang terungkap dari keseharian mereka selama di asrama. Bahkan nanti akan terungkap bagaimana seorang yang selalu mendapat nilai terbaik dalam tes mingguan masih juga tidak percaya diri sehingga ia melakukan tindakan tidak terpuji untuk menjatuhkan temannya sendiri.

Selain Clara sebagai tokoh utama, beberapa peserta tim olympiade dalam novel ini mendapat porsi khusus di novel ini, mereka adalah Arief, Goerge, dan Meddy. Ketiga tokoh tersebut masing-masing mendapat jatah satu bab sehingga kita bisa membaca kehidupan dan latar belakang kehidupan dari ketiga tokoh tersebut lengkap dengan budaya dimana mereka dibesarkan yaitu di Madura, Papua, dan Ambon.

Dari ketiga tokoh Arief kita akan memperoleh informasi tentang api abadi dan legenda asal usul orang Madura, melalui kisah George sebagai putra Papua, novel ini mengingatkan kita bahwa di provinsi paling ujung di Indonesia itu ada putra Papua yang pernah memiliki pencapaian cemerlang di bidang fisika, yakni Hans Jacobus Wospakrik. Dia adalah salah satu dari sedikit fisikawan Indonesia yang penelitiannya terbit di jurnal-jurnal internasional terkemuka bahkan ia pernah melakukan penelitian bersama peraih nobel Fisika 1999, Martinus J.G.Veltman.

Sedangkan dari tokoh Meidi yang keluarganya merupakan salah satu korban kerusuhan Ambon kita akan memperoleh informasi mengenai Georgius Everhadus Rumphius, ilmuwan Jerman yang meneliti alam Ambon pada 1600-an yang harus kehilangan anak dan istrinya saat Ambon diguncang gempa dahsyat disusul gelombang Tsunami yang menewaksan lebih dari 2000 orang pada tahun 1674.

Tak hanya menyajikan sebuah kisah yang menarik tentang Clara dan ke 16 peserta seleksi Olympiade, novel ini juga menyajikan wacana yang menarik mengenai perkembangan dunia pendidikan fisika di Indonesia dan kaitannya dengan keikutsertaan Indonesia dalam Olympiade Fisika Internasional. Melalui tokoh Bram dan Prasetyo selaku pendiri FUSI akan terungkap perbedaan pendapat mereka dalam keikutsertaan Indonesia dalam Olympiade.

Di satu sisi Tyo berpendapat bahwa perolehan medali adalah target utama FUSI agar Indonesia dikenal di panggung ilmiah internasional, sedangkan bagi Bram bukan itu tujuannya karena jika demikian FUSI hanyalah sebuah bimbingang belajar yang bertujuan menciptakan mesin-mesin penakluk soal dan bukan untuk melahirkan calon-calon ilmuwan yang kreatif. Bram berpendapat bahwa jika perolehan medali dijadikan ukuran kemajuan pendidikan fisika di Indonesia maka hal itu hanyalah kemenangan semu karena prestasi yang dicapai itu tidak menjamin para peserta akan menjadi ilmuwan yang berhasil.

Selain itu melalui tokoh Bram yang meningatkan kita akan Prof. Yohanes Surya sebagai pembimbing tim Olympiade Indonesi, novel ini juga akan mengungkap bagaimana sebenarnya pelajaran fisika yang tampaknya menyeramkan itu menjadi lebih menarik dan dapat dijelaskan secara sederhana dengan menggunakan contoh-contoh yang sering kita temui dalam keseharian kita antara lain bagaimana para pesulap menusuk sebuah balon tanpa memecahkannya, bagaimana sulitnya penjaga gawang menangkap bola ketika menghadapi tendangan pinalti, atau bagaimana David Beckham dengan tendangan penjurunya sebenarnya sedang melakukan prinsip fisika.

Ada banyak hal yang menarik dari novel ini namun satu hal yang agak disayangkan adalah adanya sebuah adegan merokok dari dua orang peserta pelatihan, mungkin penulis ingin membuat novelnya serealita mungkin dimana bukan hal yang mustahil bagi siswa berprestasi merokok di usia remajanya, namun saya rasa adegan ini tetap saja tidak seharusnya ada mengingat novel ini sangat baik untuk dibaca oleh para remaja dan rasanya tidak elok jika adegan merokok itu harus ada di novel ini. Ada banyak cara menggambarkan keseharian anak remaja apa adanya tanpa harus menggunakan adegan merokok.

Terlepas dari satu hal itu, novel yang juga mengisahkan akan arti persahabatan, persaingan, romantisme remaja, penaklukan diri, dan usaha untuk meraih mimpi dengan konsep Mestakung (Semesta Mendukung) ini menurut saya sangat penting untuk dibaca oleh para remaja kita karena memberikan inspirasi bahwa setiap orang mampu merealisasikan cita-citanya jika mau bekerja keras dan tekun. Jika hal ini dilakukan dengan terus menerus maka kita akan melihat semesta (segala sesuatu) akan membantu kita sampai apa yang kita cita-citakan akan berhasil.

Bagi para pendidik, dan pemerhati dunia pendidikan, novel ini menayadarkan kita bagaimana fisika yang mungkin selama ini dianggap sebagai pelajaran yang 'mengerikan' dan membosankan akan menjadi begitu menarik jika diajarkan dengan kreatif.

Bagi Indonesia yang kini kerap mengirimkan sejumlah peserta untuk mengikuti Olympiade Internasional di berbagai bidang dan telah berhasil memperoleh medali, novel ini mengingatkan kita bahwa medali bukanlah tujuan utama, kita tidak membantuk siswa-siswa berprestasi sekedar menjadi pengejar medali melainkan bagaiman kelak generasi muda kita dapat menjadi ilmuwan-ilmuwan kelas dunia yang memberikan sumbangsihnya pada kemajuan ilmu penghetahuan Indonesia dan dunia.

****

@htanzil

3 comments:

okeyzz said...

Aku bayangin novel ini potensial banget ya buat difilmkan. Cuma adegan merokok yg ga mendidik itu dihilangkan aja~ hehe

teja kusuma said...

beli bukunya dimana nih?

teja kusuma said...

beli bukunya dimana nih?