Monday, February 16, 2015

Gunung Padang : Penelitian Situs dan Temuan Menakjubkan by Hermawan Aksan

[No. 350]
Judul : Gunung Padang, Penelitian Situs dan Temuan Menakjubkan
Penulis : Hermawan Aksan
Penerbit : Nuansa Cendekia
Cetakan : I, Januari 2015
Tebal : 281 hlm

Situs Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat adalah situs megalitik terbesar di Asia Tenggara yang dalam empat tahun terakhir (2010-2014) ini menjadi buah bibir bagi para ahli dan masyarakat umum hingga ke mancanegara. Hal ini dikarenakan temuan-temuan penelitian Tim Terpadu Riset Mandiri yang menyatakan bahwa situs ini adalah bagian dari sebuah Piramida tersembunyi telah dipublikasi di media cetak dan onlen  secara luas.

Keberadaan situs megalitik Gunung Padang berbentuk punden berundak ini diduga kuat sudah diketahui sejak 4 abad yang lampau. Di awal abad ke-16, Bujangga Manik, seorang bangsawan kerajaan Sunda (Pajajaran) menulis sebuah sajak dalam bahasa Sunda Kuno yang merujuk sebuah tempat yang mirip dengan penggambaran kondisi Gunung Padang. Di tahun 1891, Rogier Diederik Marius Verbeek dalam bukunya Oudheden van Java memuat laporan De-Corte tentang Gunung Padang. NJ. Krom seorang ahli kepurbaklaaan Belanda pada tahun 1914 dalam bukunya yang berjudul Rapporten Oudheidkundige Dienst juga telah mendeskirpsikan situs ini. Di era modern setelah Indonesia merdeka pada 1979 untuk pertama kalinya dilakukan peninjauan dan ekskavasi oleh D.D Bintari dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional yang dilanjutkan dengan penelitian hingga tahun 1982. Hingga tahun 2011 telah dilakukan sejumlah peneliitian, survei,ekskavasi, analisa, dll oleh Balai Arkeologi Bandung, Tim Katastropik Purba 
Dari semua tulisan penelitian diatas tidak satupun yang mengungkap kefenomenalan situs Gunung Padang selain adanya situs megalitik berbentuk punden berundak di puncak gunung Padang sebagai tempat pemujaan. Pada tahun 2010-2014 setelah Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) yang digagas oleh Andi Arief (staf khusus kepresidenan RI di masa pemerintahan SBY) barulah terungkap bahwa situs Gunung Padang yang ada sekarang adalah puncak dari sebuah peradaban tinggi masa lampau berbentuk Piramida yang diperkirakan 10 kali lebih besar dari Borobudur yang dibangun tahun 16.000 SM sehingga usianya jauh  lebih tua dari  Piramida Giza di Mesir yang dibangun pada tahun 2.584 SM.







Seluruh hasil penlitian dan temuan menakjubkan dari tim tersebut kerap dipublikasikan kepada umum dan dimuat di berbagai media. Karena terungkapnya hal-hal yang mencengangkan maka tidak heran temuan-temuan dari tim ini menimbulkan kontroversi dan polemik dari para arkelog di luar tim yang mencoba mematahkan pendapat tim tersebut.

Apa saja hasil temuan TTRM yang menghebohkan beserta polemiknya  itu kini bisa dibaca di Buku Gunung Padang, Penelitian Situs dan Temuan Menakjubkan yang ditulis oleh Hermawan Aksan. Jurnalis senior ini mencoba merekam hasil kerja tim dengan cara meliput hasil penelitian secara langsung di sana. Mengumpulkan arsip-arsip berita dan  laporan para peneliti, serta melakukan wawancara kepada para peneliti dan nara sumber lain seperti penduduk, pejabat daerah setempat, juru kunci Gn Padang, dll

Buku yang ditulis secara jurnalistik ini dibagi dalam delapan bagian. Di bagian pertama penulis mendeskripsikan keberadaan situs Gunung Padang mulai dari lokasinya termasuk rute bagaimana kita bisa mencapai situs yang kini telah menjadi obyek wisata ini. Di bagian ini juga dideskripsikan kelima teras situs Gunung Padang secara detail termasuk sejumlah cerita rakyat dan mitos yang masih menyelimuti Gunung Padang seperti tempat bersemayam Prabu Siliwangi, tempat melihat bintang, misteri harta karun, piramida, dll.

Bagian kedua dan ketiga berisi sejarah penemuan situs Gunung Padang dan bagaimana tim Katostropik Purba yang kemudian dilanjutkan oleh Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) membedah situs ini melalui berbagai survei dan eksavasi dengan  melibatkan metode dan para ahli dari 19 disiplin ilmu. Seluruh profil singkat anggota tim ini juga disertakan di bagian ini.  Hasil penelitian Tim Katostropiok Purba,yang kemudian dilanjutkan TTRM ini dilaporkan secara berkala kepada Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) yang laporannya secara utuh terdapat di bagian ketiga buku ini.

Bagian keempat secara khusus mengetengahkan kontroversi dan polemik hasil penelitian TTRM yang disanggah oleh berbagai kalangan, puncaknya adalah dikeluarkannya petisi pada tanggal 29 April 2013 untuk mengenghentikan penelitian situs Gunung Padang oleh kelompok Forum Pelestarian Gunung Padang yang ditandatangani oleh 34 peneliti dari Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Kelompok Riset Cekungan Bandung, dan Himpunan Ahli Geofisika Indonesia dimana sebagian besar dari mereka adalah para peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas).

Menurut mereka apa yang dilakukan TTRM Gunung Padang berupa eksavasi besar-besaran mengancam kelestarian Gunung Padang karena menggunakan tenaga yang tidak terlatih. Selain itu mereka juga menilai penelitian yang dilakukan TTRM dilaksanakan tanpa kaidag-kaidah keilmuan, wawasan pelestarian, dan ketentuan administrasi sesuai dengan izin yang dikeluarkan oleh karena itu dalam petisinya mereka menghimbau pemerintah untuk menghentikan penelitian TTRM.

Temuan-temuan yang dihasilkan oleh TTRM disajikan secara lengkap di bagian kelima dan keenam buku ini. Di dua bagian ini kita akan melihat analisa dan temuan-temuan  menarik seperti hasil uji carbon usia lapisan tanah Gunung Padang yang ternyata berusia belasan ribu tahun SM,  skala gunung padang yang dibuat oleh Ir. Pon Purajatmika, seorang arsitek yang tergabung dalam tim mandiri yang memvisualkan kemegahan dan kebesaran situs Gunung Padang yang ia yakini bahwa situs Gunung Padang bukan hanya punden berundak yang hanya berada di puncak gunung saja melainkan meliputi seluruh bagian gunung. Lalu ada pula temuan mengenai keberadaan struktur bangunan di bawah situs, adanya semen purba untuk mengikat batu, indikasi adanya teknologi metalurgi purba, dugaan adanya ruang dan lorong di bawah situs gunung Padang, temuan batu berbentuk kujang, amulet, ratusan artefak,  dll.












(Kiri : Sketsa imajiner yg dibuat Ir. Pom Purajatmika.  Kanan : Struktur G. Padang oleh TTRM)

Di Bagian tujuh, buku ini memuat secara utuh resume laporan kegiatan peneliatian TTRM/Tim Nasional Pelestarian dan Pengolahan Gunung Padang bersama Karya Bakti TNI kepada Presiden SBY dan tanggapan Presiden SBY atas laporan tersebut. Selain itu di bagian ini ada juga poin-poin hasil penelitian yang disampaikan kepada Presiden. Diantara 22 poin yang disampaikan ada satu poin menarik yang tentunya membuat kita penasaran yaitu :



Temuan apakah itu? mari kita bersabar hingga pada saatnya nanti temuan rahasia tersebut dibuka bagi seluruh masyarakat. Buku ini ditutup di bagian ke delapan dengan bahasan mengenai misteri yang masih menyelimuti Gunung Padang yaitu apa sebenarnya gunung padang, kapan dibangun?, siapa yang membangun, dan untuk apa dibangun?.

Secara umum buku ini sangat informatif bagi mereka yang ingin mengetahui tentang situs Gunung Padang lengkap dengan temuan ilmiah plus segala misteri dan polemiknya. Di buku ini penulis berupaya menyajikan polemik Gunung Padang secara obyektif. Pendapat dari tim dan kelompok yang menyanggahnya disajikan secara seimbang, setiap bantahan terhadap hasil kerja tim disertakan juga pembelaannya. Namun tampaknya dalam menyusun buku ini penulis tidak berinteraksi atau melakukan wawancara secara langsung dengan kelompok yang menyanggah (mohon dikoreksi kalau salah), padahal kalau penulis melakukan wawancara khusus dan menyajikannya secara khusus dalam buku ini tentunya sisi polemik dari penelitian situs ini akan semakin lengkap dan berimbang.  

Sebelum buku ini terbit, sebetulnya sudah ada buku tentang Gunung Padang berjudul Situs Gunung Padang, Misteri dan Arkeologinya (Change Publication, 2014) yang ditulis oleh Dr. Ali Akbar, Arkeolog UI, ketua Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM). Namun tampaknya buku tersebut lebih bernuansa ilmiah dimana salah satu tujuan ditulisnya buku tersebut antara lain agar dapat dijadikan panduan bagi para arkeolog yang nantinya akan melanjutkan penelitian Gunung Padang.

Sedangkan buku Gunung Padang yang ditulis oleh Hermawan Aksan ini tampaknya lebih mudah dipahami oleh pembaca awam karena ditulis dengan gaya populer. Istilah-istilah ilmiah memang tidak dapat dihindarkan namun penulis berhasil menyajikannya dalam kalimat-kalimat yang mudah oleh dipahami masyarakat umum.

Buku ini juga dilengkapi dengan foto-foto hitam putih dan berwarna dengan kualitas yang baik sehingga pembaca bisa melihat secara visual berbagai temuan menarik dari tim TTRM.  Selain itu buku ini juga memuat sejumlah data penting seperti laporan tim kepada Presiden, isi petisi, serta polemik di media cetak dan online sehingga buku ini sangat kaya akan informasi penting mengenai situs Gunung Padang yang layak diketahui dan dikomunikasikan secara luas kepada masyarakat Indonesia.

@htanzil


Bonus Poster dari buku Gunung Padang

2 comments:

Dewi Aja said...

Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

Oh ya, di sana anda bisa dengan bebas mendowload music, foto-foto, video dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

Euisry Noor said...

Ulasannya keren, seperti biasa. Aku lihat buku ini di pameran buku Bandung kemaren, tapi harganya mahal bgt... Tertarik banget ingin baca. Sudah sempat menginjakkan kaki pula di Gunung Padang sekitar 2 tahunan lalu bersama kawan2 goodreads :).