Wednesday, August 19, 2015

Seteru 1 Guru : Novel Pergulatan 3 Murid Tjokroaminoto - Soekarno, Musso Kartosoewirjo

[No.359]
Judul : Seteru 1 Guru : Novel Pergulatan 3 Murid Tjokroaminoto: Soekarno, Musso Kartosoewirjo
Penulis : Haris Priyatna
Penerbit : Qanita
Cetakan : I, April 2015
Tebal : 260 hlm
ISBN : 978-602-1637-78-4

Seteru 1 Guru adalah sebuah novel sejarah yang mengisahkan penggalan hidup tiga orang murid HOS Tjokroaminoto yaitu Soekarno, Muso, dan Kartosoewiyo. Walau ketiganya mendapat gemblengan yang sama dalam hal perlawanan terhadap pemerintahan kolonial Hindia Belanda namun ketiganya memilih jalan perlawanan yang berbeda sesuai dengan ideologi yang mereka yakini dapat membawa Indonesia pada kemerdekaan dan kemakmuran. Soekarno memilih jalan nasionalisme, Musso memilih jalan komunisme, sedangkan Kartosoewiryo memilih jalan islam radikal.

Bagaimana dan seperti apa ketiga murid Tjokroaminoto menempuh jalannya masing-masing hingga akhirnya berseteru inilah yang diungkapkan oleh penulis dalam novel ini. Novel setebal 243 hlm ini dibagi kedalam tiga bagian besar yaitu : Kemelut, Internaat, Kulminasi. Di bagian pertama dikisahkan bagaimana kemelut politik yang terjadi sebelum dan setelah  kemerdekaan Indonesia dan  bagaimana Soekarno, Musso, dan Kartosoewirjo berperan di masa itu.

Di bagian kedua, Internaat (Asrama atau rumah kos) diceritakan bagaimana  awalnya Soekarno, Musso, dan Kartosoewirjo bertemu dan mondok tempat kos milik Tjkoroaminoto di Surabaya dan seperti apa jalan politik yang mereka tempuh masing-masing  untuk mempertahankan kemerdekaan dan mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat. Di bagian ini terungkap persahabatan antara Soekarno dan Kartosoewirjo sehingga orang menyebut dua sahabat itu dengan sebutan "Karno dan Karto".

Sedangkan di bagian ketiga, Kulminasi, mengungkap bagaimana Muso dan Kartosoewirjo akhirnya masing-masing melakukan pemberontakan melawan pemerintah Republik Indonesia yang dipimpin oleh teman mereka sendiri, Soekarno. Bagian ini tidak kalah menariknya dengan dua bagian terdahulunya dimana di bagian ini dikisahkan bagaimana Muso dan Kartosewirjo harus lari ke hutan untuk menghindari pasukan TNI yang mencarinya hingga akhirnya Muso ditembak mati dan Kartosoewirjo berhasil di tangkap hidup-hidup. Di bagian ini terungkap juga bagaimana  Soekarno yang saat itu telah menjadi presiden harus bergumul untuk menandatangani surat eksekusi mati bagi Kartosoewirjo, sahabatnya sendiri

                                                    (Soekarno, Musso, Kartosoewirjo)

Di buku ini  tergambar dengan jelas apa yang menjadi alasan bagi Musso dan Kartosoewirjo mengambil sikap menentang pemerintahan Soekarno yang ternyata bersumber dari kekecewaan mereka akan hasil perundingan Renville dan Linggarjari yang mereka anggap merugikan sangat merugikan Indonesia. Sayangnya, alih-alih melakukan protes atau pendekatan terhadap pemerintahan yang sah, mereka berdua memilih melakukan konfrontasi langsung dengan pemerintah RI.

Sebagai contoh, dalam Rapat Akbar PKI di Jogyakarta yang dihadiri oleh 50 ribu orang setelah Muso kembali dari pengembaraannya di Uni Soviet selama 23 tahun,  dalam pidatonya Musso mengatakan :

"Saudara-saudara perundingan dengan Belanda harus dihentikan! Kita harus selekasnya membuka hubungan dengan Uni Soviet..... Selain itu, Saudara-Saudara, revolusi harus dipegang oleh golongan proletar, bukan golongang borjuis! Karena kaum proletarlah yang paling revolusioner dan paling anti imperialis. Kesalahan itu harus segera kita perbaiki. Saatnya kita ambil jalan baru. Marilah kita dukung PKI..." (hlm 40)

dan setelah rapat akbar tersebut maka Muso langsung mengambil langkah-langkah sbb :


"...langkah pertama yang dilakukan Musso setibanya di Indonesia adalah mengambil alih pimpinan Front Demokrasi Rakyat (FDR) dan melebur Partai Komunis, Partai Buruh, Partai Sosialis, dan Pesindo menjadi partai tunggal: Partai Komunis Indonesia. Musso meminta seluruh pemimpin organiasi tersebut bersumpah menentang politik pemerintah. " (hlm 41)

Jika Muso menenentang pemerintahan melalui partainya yang berideologi komunis, maka Kartosoewirjo mennempuh jalan perjuangan dengan cara yang radikal yaitu membentuk laskar Islam dengan tujuan mendirikan negara sendiri.

"Saudara-saudaraku para Mujahidin yang gagah berani, naskah Renville tak ada beda dengan naskah Linggarjati, bahkan lebih tidak berharga lagi. Sama sekali tak ada nilanya bagi kita secara politik maupun militer. ...."

Pidato pembukaan Kartosoewirjo pagi itu membakar semangat untuk terus memperjuangkan kemerdekaan Jawa Barat. Pada akhir rapat, dihasilkan keputusan untuk membekukan Masyumi Jawa Barat, dan melebur seluruh laskar Islam ke dalam TII (Tentara Islam Indonesia) dengan markas besar di Gunung Cupu. (hlm 57)

Sementara  Muso berjuang  melalui ideologi komunis, Kartosoewiryo melalui cara Islam radikal, dan Tjokroaminoto melalui ideologi sosialisme Islam maka Soekarno menempuh jalan Nasionalisme yang kelak terbukti mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

....Soekarno mulai meninggalkan ideologi yang diajarkan gurunya itu. Bagi Soekarno pandangan Tjokro tentang kemerdekaan tanah air terasa kaku karena ditinjau melalui konsep mikroskop Islam. (hlm  165-166)

Sebagai sebuah novel sejarah, tentunya ada banyak sekali peristiwa dan latar sejarah terkait perjuangan ketiga murid Tjokroaminoto di masa-masa genting paska kemerdekaan hingga akhirnya Muso dan Kartosoewirjo melakukan pemberontakan bersenjata untuk merebut pemerintahan yang sah yang dipimpin oleh Soekarno sahabat mereka sendiri.

Walau novel ini tentang ketiga murid Tjokro namun penulis juga menyajikan porsi yang cukup besar tentang kehidupan Tjokroaminoto sehingga kita pun bisa mengenal sosok sang guru bangsa yang sederhana namun memiliki kharisma dan disegani, tidak hanya oleh kalangan pribumi saja melainkan juga oleh orang-orang Belanda di Hindia sehingga ia dijuluki sebagai Raja Jawa Tanpa Mahkota.

Dikisahkan juga bagaimana Soekarno selalu menjadi buntut Tjokro. Kemanapun Tjokro pergi, Soekarno ikut termasuk ketika Tjokro berpidato di berbagai tempat. Hal inilah yang kelak menjadikan Soekarno sebagai seorang orator ulung.

Soekarno selalu memperhatikan cara Tjokro berpidato. Menyimak cara Tjokro menjatuhkan suaranya. Mengamati gerak tubuhnya. Dia juga menelisik kekurangan Tjokro, yaitu intonasinya yang cenderung monoton dan minus lelucon. Dari sanalah, Soekarno tidak pernah berlatih pidato di depan cermin. Tjokro-lah yang menjadi cerminnya.  (hlm139-140)

                                                    (beberapa foto di novel Seteru 1 Guru)

Masih banyak hal-hal menarik tentang kehidupan keempat tokoh dalam novel ini termasuk sejarah bangsa di masa sebelum dan paska kemerdekaan. Sayangnya sepertinya penulis terlalu setia pada fakta sejarah. Jika memang fakta sejarah tidak bisa terlalu dieksplorasi menjadi sebuah fiksi yang menarik namun ada kehidupan pribadi keempat tokoh sejarah yang menjadi tokoh novel ini yang bisa digali dan dikembangkan secara imajinatif misalnya keluarga Musso dan Kartosoewirjo yang tidak terungkap di novel ini. Sehingga kedua tokoh itu terasa lebih kaku dibanding sosok Tjokro dan Soekarno.

Terlepas dari hal itu saya rasa novel yang juga menyertakan beberapa foto sejarah ini wajib dibaca oleh generasi muda yang mungkin sudah mulai enggan membaca buku sejarah. Novel ini membuat sejarah yang biasanya tersaji secara kaku dalam buku-buku teks sejarah menjadi lentur dan enak dibaca dan memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi sehingga peristiwa sejarah dan ide-ide besar dari keempat tokoh yang ikut membentuk bangsa Indonesia seperti sekarang ini tersampaikan secara jelas kepada para pembacanya.

@htanzil

2 comments:

hilman awaludin said...

nuhun gan infona menarik pisan.

jessi yun said...

mkasih info review bukunya, buat prtimbangan beli apa nggak. spertinya sih menarik :D