Monday, December 21, 2020

Akhir Perpustakaan Kelamin : Sayang Kamu Hanya Kehilangan Kelamin, Bukan Hidup

[No.395]
Judul : Akhir Perpustakaan Kelamin  (Sayang, Kamu Hanya Kehilangan Kelamin, Bukan Hidup)
Penulis : Sanghyang Mughni Pancaniti
Penerbit : Semesta
Cetakan: I, November 2020
Tebal : vii + 209 hlm
ISBN : 978-602-14549-3-0 

+ "Buku apa ini? Perpustakaan Kelamin?"
- "Iya, Pak."
+ "Menceritakan apa? Perpustakaan Kelamin?"
- "Hahaha...Bukan."
+ "Terus? Perpustakaan yang bangunannya tersusun dari kelamin?"
- "Bukan juga, Pak"
+ "Berarti buku porno? Kalau buku porno akan langsung  saya tolak sekarang"
  (hlm 157)

Demikian percakapan antara Hariang, tokoh utama novel ini dengan seorang editor mengenai buku Perpustakaan Kelamin (PK). Mungkin ini juga yang akan ditanyakan orang yang belum pernah membaca dua novel sebelumnya  Perpustakaan Kelamin (PK-1),  Perpustakaan (Dua) Kelamin (PK-2). Ya, ini bukan buku porno atau buku yang berbicara tentang kelamin. Memang kelamin menjadi pengikat kisahnya namun bukan berarti seluruh novel ini membicarakan kelamin, melainkan tentang perpustakaan  yang didirikan dari hasil mendonorkan kelamin.

"Isi Perpustakaan Kelamin tak hanya tentang ceritamu mendonorkan kelamin, ada banyak cerita, terutama tentang dunia perbukuan, yang bisa diambil manfaatnya oleh pembaca.
(hlm 74)

Jika PK-1 mengisahkan bagaimana kisah perjuangan tokoh-tokohnya dalam membangun kecintaannya pada  buku dan membaca, PK-2 tentang perjuangan Hariang menulis memoar untuk mas kawinnya, maka novel pamungkasnya yang diberi judul Akhir Perpustakaan Kelamin mengisahkan bagaimana Hariang berjuang  untuk menerbitkan memoarnya yang diberi judul Perpustakaan Kelamin.

Bagi Hariang bukan hal yang mudah untuk menerbitkan memoarnya. Ada dua rintangan yang harus dihadapinya, pertama ia harus melewati rintangan dari istrinya sendiri yaitu  Drupadi yang tidak ingin naskah itu diterbitkan. Drupadi belum bisa menerima jika akhirnya orang lain mengetahui apa yang terjadi pada suaminya yang harus hidup tanpa kelamin. Kedua adalah dari berbagai penerbit yang menolak menerbitkan naskahnya tersebut dengan beragam alasan. 

Seperti halnya di dua novel sebelumnya, di novel inipun penulis  memperkaya pembacanya dalam hal  dunia buku, khususnya kini tentang  kepenulisan, penerbitan, editing, perjuangan penulis-penulis terkenal dalam menerbitkan buku, tentang self publisher, penerbitan indie, dan sebagainya. Karena novel ini mengisahkan perjuangan Hariang untuk menerbitkan bukunya maka perihal editor, profreader dan editing yang merupakan tahapan penting sebelum buku itu dibawa ke penerbit mendapat porsi yang cukup banyak disinggung di buku ini. 

Sebagai contoh dalam dialog Hariang dengan Kang Uni penulis menjelaskan fungsi editor dan profreader serta perbedaannya karena selama ini orang sering mencampuradukkannya. 

Tugas editor yang paling besar adalah berkutat di cerita dan gagasan...Ibaratnya, naskah seorang penulis itu adalah arca tanpa rupa, lalu sang editor akan memahat dan membentukanya

"Kalau ternyata naskah seorang penulis itu sudah berbentuk?"
"Editor akan memperindahnya."

"Saya kira editor itu yang mengurus kesalahan-kesalahan ketik"
"Yang bekerja untuk bagian itu, disebut proofreader. Sering juga disebut pemeriksa aksara, atau penyelaras akhir. Nanti dia yang membetulkan kata-kata yang salah eja, tidak sesuai kebakuan, tidak mengikuti ejaan yang disempurnakan, kesalahan tanda baca, susunan kalimat yang tak logis, dan hal-hal lain yang besifat teknis. 

...biasanya,  seorang proofreader baru bekerja, ketika tugas editor sudah selesai.
(hlm 57, 59) 

Selanjutnya bagaimana contoh seorang editor berkutat di cerita dan gagasan dicontohkan secara rinci dalam bentuk dialog di novel ini yaitu ketika bagaimana Kang Uni memberikan gagasan, masukan-masukan pada draft Perpusatkaan Kelamin. 

Selain tentang proses editing novel ini juga memberikan porsi yang cukup banyak tentang fisik/anatomi buku, dari soal cover, punggung buku, pembatas buku, halaman 4 yang berisi data buku, hingga halaman ucapan terima kasih. 

Ketika membahas isi halaman 4 yang biasanya berisi data buku (judul, penulis, penerbit,editor,dll), ada hal yang sepertinya kini jarang terdengar dan tersaji di halaman 4,  yaitu Kolofon yang memuat informasi seperti jenis tipografi yang digunakan untuk teks buku, jenis kertas, jenis tinta, jenis jilid, dan jenis mesin yang digunakan untuk mencetaknya.  

Soal  buku best seller juga dibahas di buku ini, di Indonesia karena tidak memiliki standard nasional maka patokan best seller itu berbeda-beda, tergantung penerbitnya. Berbeda dengan Inggris yang menetapkan angka best seller jika buku telah terjual 4000 sampai 25.000 ekslempar pe minggu. Salah satu contoh buku yang benar-benar masuk kategori best seller adalah novel Musashi karya Eiji Yoshikawa, di Jepang buku ini terjual 35 juta kopi padahal penduduk Jepang hanya 30 juta!

Ada masih banyak hal-hal seputar dunia buku yang menarik dalam novel  ini. Lalu bagaimana dengan unsur drama atau konflik dari   kisah sang tokohnya sendiri?  Di novel pangungkas Perpustakaan Kelamin ini sepertinya unsur dramanya agak berkurang dibanding dua buku sebelumnya. Sejak awal hingga menjelang akhir, dialog mengenai dunia buku lebih mendominasi. Bagi pembaca yang senang akan dunia buku hal ini tidak menjadi masalah karena novel ini akan memberi pengetahuan yang limpah akan dunia buku khususnya tentang bagaimana menerbitkan sebuah buku. Namun bagi pembaca yang menginginkan atau berekspektasi akan mendapat sebuah novel dengan keseruan drama dari konfik para tokoh-tokohnya tentunya hal ini akan sedikit mengecewakan.

Namun untungnya di bab-bab akhir penulis menyajikan sebuah keseruan sekaligus kejutan buat pembacanya.  Apa yang menjadi sebab Hariang dipenjara di akhir novel sebelumnya (Perpustakaan Dua Kelamin)  akan terjawab di bagian akhir novel ini. Selain itu sebuah akhir kisah  yang tidak teduga  akan mengguncang pembacanya sehingga pembaca akan berkata seperti yang sering dikatakan Hariang, "Edan!!". Ketegangan, keharuan, dan kelegaan akan bercampur aduk ketika pembaca mengakhiri pembacaan atas novel ini. 

Namun sayangnya ada sedikit yang agak mengganggu di bagian akhir, yaitu tentang handphone yang sedang dicharge yang merekam terjadinya sebuah peristiwa yang selama ini tersembunyi dengan rapih.  Umumnya orang mencharge handphone dalam keadaan telentang atau tertelungkup sehingga sulit rasanya membayangkan handphone yang sedang dicharge secara tidak disengaja dapat merekam sebuah adegan dengan sempurna.

Walau dunia buku mendominasi novel ini namun ada beberapa pelajaran kehidupan diluar tema buku yang bisa diambil hikmahnya seperti misalnya bagaimana Hariang yang walau harus hidup tanpa kelamin namun tidak membuat dirinya minder, Drupadi yang dengan cintanya yang tulus mau mempertahankan pernikahannya walau suaminya tanpa kelamin, dan bagaimana  pengorbanan seorang ibu pada anaknya, demikian juga sebaliknya yang mengajarkan pada kita akan cinta yang luhur dan penuh pengorbanan antara ibu dan anaknya. 

Selain itu ada satu hal yang juga menarik yaitu mengenai hadirnya tokoh seorang ustaz terkenal yang diceritakan sering tampil di TV dan pengajiannya selalu dihadiri ribuan orang sehingga membuat sang ustaz menjadi sombong dan mensyaratkan tarif puluhan juga untuk siapapun yang mengundangnya.  Hal ini membuat ayah dari sang ustaz tersebut memperingatinya dengan keras.

"Karena tiap hari dijunjung, tiap hari dipuja, akhirnya kamu merasa yakin kalau kamu memang pantas dijunjung dan dipuja. Maka kamu menomorsatukan dirimu, mengutamakan nama besarmu. Kamu lupa, kalau kamu ini bukanlah apa-apa! Kamu lupa, kalau kamu ini tak penting! Kamu lupa, jangankan kamu, seluruh jagat raya ini tidaklah berharga, yaitu saat kamu tenggelam dalam kesunyian cintamu yang tunggal dan utuh kepada Tuhanmu."  (hlm 28) 

Masih banyak hal yang menarik di buku ini terlebih mengenai bagaimana perjuangan Hariang dalam menerbitkan bukunya. Opini atau pendapat penulis yang kritis dalam dunia buku dan kepenulisan juga  tumpah ruah di novel ini.   Bagi pembaca yang saat ini sedang menulis buku atau sedang berusaha untuk menerbitkan bukunya saya sarankan untuk membaca novel ini karena bisa menjadi panduan  untuk buku yang sedang ditulis atau hendak diterbitkan.

Sebuah pesan dari tokoh ibu yang ada di bagian akhir novel ini juga sangat baik untuk para penulis pemula yang mungkin sedang membaca novil ini . Ini pesan Ibu : 

"Jangan melabeli diri sebagai penulis pemula. Karena label ini akan menjebak mereka untuk memaafkan kesalahan-kesalahan dalam menulis, mudah mentolerir kekurangan serta kedangkalannya lantaran menganggap diri jadi penulis pemula. Katakan pada mereka, jadilah penulis pelanjut! Artinya, sebelum berpikir menerbitkan buku, menulislah dulu yang banyak, membacalah buku yang banyak, dan reguklah pengalaman yang luas."
(hlm 206)

Ingat pesan Ibu! Akhir kata saya berpendapat bahwa novel ini dapat dikatakan sebagai panduan praktis tentang bagaimana dan apa saja yang harus dilakukan agar kita dapat menerbitkan karya kita menjadi  sebuah buku. Buku panduan menerbitkan buku yang dikemas dalam bentuk novel yang menarik.  Novel dengan tokoh-tokohnya yang begitu mencintai buku dan dunianya. Novel yang tokoh-tokohnya menghargai dan memuliakan buku pada tempat yang seharusnya. 

@htanzil

Buku ini bisa diperoleh di Tokopedia , Shopee

2 comments:

Pak Eko said...

Saya senang membaca buku, kali ini bertemu dengan blog yang membahas mengenai resensi buku. cocok dech

Abdul Somad said...

Saran saya Optimasi PageSpeed Blog nya, Agar loading lebih ringan.

Coba ikuti Petunjuk Penggunaan Google PageSpeed Insights Untuk Meningkatkan Performa Website.