Wednesday, July 25, 2012

Wishful Wednesday 1

Biasanya aku gak pernah ikut2 an meme yang diadakan teman-teman blogger buku, tapi kali ini aku pingin ikutan! :). Wishful Wednesday, adalah weekly meme yang digagas oleh Blog buku Book To Share Kali ini ada yang menarik dari Wishful Wednesday-nya karena dibarengi dengan giveaway! nah  inilah yang membuat aku tergerak ikutan, siapa tahu beruntung, atau siapa tau Astrid, pengelola blog Book To Share tergerak memberikan giveawanya untukku tanpa diundi... wkwkwk. Mimpi kali yeee... :)

Baiklah, ini adalah buku yang jadi incaranku.

THE ALEXANDRIA LINK 
by Steve Berry


Kenapa aku memilih novel ini? tentu saja karena ada aroma buku  yang menyengat di novel karya Steve Berry ini, apalagi menyangkut Perpustakaan Alexandria, perpustakaan terlengkap dan terbesar di dunia yang didirikan di Mesir pada abad 3 SM. Sayangnya perpustakaan ini  namun hancur lebur karena perang di abad ke-5 Masehi.

Lalu novel ini bercerita tentang apa dan apa kaitannya dengan Perpustakaan Alexandria?

Berikut Sinopsinya :

Cotton Malone mengundurkan diri dari dunia penuh risiko agen lapangan elit Departemen Luar Negeri Amerika dan membuka toko buku-buku langka. Namun kehidupannya yang tenang terguncang ketika ia menerima email tanpa identitas pengirim yang mengancam akan membunuh putranya. Mantan istrinya yang ketakutan memberitahu bahwa ancaman itu nyata: Putranya yang beranjak remaja telah diculik. Ketika toko buku Malone di Kopenhagen dibakar hingga rata dengan tanah, jelas bahwa mereka yang bertanggung jawab terhadap kejadian itu tidak akan berhenti hingga mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan: Perpustakaan Alexandria yang hilang.

Berbagai pendapat––sejarah, filsafat, literatur, sains, dan agama––memberikan data yang sama bahwa Perpustakaan Alexandria pernah ada di dunia. Tapi 1.500 tahun yang lalu, perpustakaan itu musnah menjadi kabut misteri dan legenda––sejak saat itu, keluasan ilmu dan pengetahuan yang bisa diperoleh dari perpustakaan tersebut diperebutkan oleh para ilmuwan, pemburu harta karun, dan mereka yang percaya rahasia tersembunyi perpustakaan itu memegang kunci menuju kekuasaan terbesar.

Kini kartel pengusaha kaya kelas internasional, yang berkomplot untuk mengubah alur sejarah, sangat ingin menerobos kesucian perpustakaan––dan hanya Malone yang memiliki informasi yang mereka kejar. Sebuah dokumen tua yang sangat penting, yang berpotensi tidak hanya dapat mengubah takdir di Timur Tengah, tapi juga dapat mengguncangkan pondasi dasar tiga agama terbesar di dunia.

Nah, menarik kan? sekarang tinggal berharap dan berdoa semoga aku bisa mendapatkan buku itu.. :) 

Pingin ikutan program ini juga? silahkan simak aturan mainnya di bawah ini :

1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)

2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!

3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
 
Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

@htanzil

Wednesday, July 18, 2012

Pemberian Sang Magi by O. Henry

 

Posting review cerpen ini merupakan partisipasi saya atas event menarik Shorty July - Baca Bareng Cerpen Klasik yang diadakan oleh blog Baca Klasik dan disponsori oleh Penerbit Serambi.

Selamat Menyimak ! 

Pemberian Sang Magi 
Oleh : O. Henry
Penerjemah : Maggie Tiojakin
Fiksi Lotus Vol.1 halaman 25-37

Dahsyatnya kekuatan cinta membuat seseorang rela kehilangan sesuatu yang berharga bagi dirinya untuk dipersembahkan bagi seseorang yang ia cintai. Demikian juga yang dilakukan oleh sepasang suami istri Mr & Mrs James Dillingham Young, tokoh rekaan O, Henry (1862-1910)   sastrawan Amerika dalam sebuah cerita pendeknya yang berjudul "Pemberian Sang Magi".  "Sang Magi" disini adalah orang Majus yang memberikan hadiah istimewa bagi bayi Yesus di Betleham.

Dikisahkan Della, istri dari James Dillingham Young berniat untuk memberikan sebuah hadiah natal untuk suaminya tercinta. Malangnya Della hanya memiliki uang sebesar $ 1,87. Apa yang dapat ia berikan dengan uang yang sedikit itu?

Satu dolar dan delapan puluh tujuh sen. Cuma itu. Bahkan, enam puluh sen dari jumlah itu terdiri dari uang receh bernilai satu sen-an, hasil simpanannya selama ini—yang didapatnya dengan cara mendesak tukang sayur, tukang daging dan penjaga toko kelontong agar sudi menjual dagangan mereka kepadanya dengan harga termurah. Proses tawar-menawar itu tidak jarang membuatnya malu, hingga pipinya memerah, sebagaimana semua orang pasti merasakan hal yang sama jika mereka ada di posisinya. (hal 25)

Akhirnya setelah berpikir cukup lama diselingi derai air mata karena sedih tidak memiliki uang yang cukup untuk membeli kado untuk suaminya Della memutuskan untuk menjual rambut kebanggannya yang panjang. Perlu diketahui hanya ada dua hal di dunia ini yang sangat berarti bagi pasangan Mr. dan Mrs. James Dillingham Young: pertama, jam saku yang terbuat dari emas yang merupakan warisan turun temurun dari keluarga James; kedua rambut panjang Della.

Della tau kalau rantai jam tangan suaminya sudah usang dan ia ingin suaminya bisa berbangga hati saat mengeluarkan jam saku warisan orang tuaya di depan siapa saja. Untuk itulah ia merelakan rambut panjang kebanggaannya untuk dijual agar ia dapat membeli rantai jam saku untuk suaminya tercinta.

Sama seperti Della, James pun memiliki keinginan untuk memberikan kado natal istimewa untuk istrinya. Tahu kalau Della sangat bangga dan mencintai rambut panjangnya, James memberikan satu set sisir untuk keperluan penataan rambut panjang Dela. Untuk itu James rela menjual jam saku kesayangannya untuk dibelikan kado natal untuk istrinya

Nah, bisa dibayangkan bagaimana terkejutnya mereka berdua ketika mengetahui apa yang diberikan oleh pasangannya masing-masing.

Cerpen ini sangat menarik karena walau kisahnya sederhana namun O Henry dengan piawai merangkai kisah dengan baik. Dari awal hingga akhir pembaca akan diajak ikut merasakan keprihatinan, pergulatan batin, keharuan, serta cinta dan pengorbanan yang dilakukan oleh pasangan keluarga Dillingham ini. Selain itu pembaca juga akan dibuat penasaran bagaimana ending dari kisah ini apalagi ketika akhirnya diketahui kalau fungsi masing-masing kado natal dari mereka itu ternyata tak lagi bermanfaat secara fungsional.

Bagi saya cerpen ini merupakan cerpen yang menggugah dan membangun kesadaran akan cinta dan pengorbanan bagi seorang yang dicintainya.

Tentang Penulis

O Henry adalah nama pena dari William Sydney Porter. Lahir di North Carolina pada tahun 1862, ia mulai menggunakan nama penanya saat mendekam di penjara di pertengahan 1890an. Ia dikenal sebagai penulis yang produktif, seluruhnya ada 381 cerita pendek yang ditulisnya. Dikenal pandai menggambarkan kesedihan dan kegembiraan orang biasa, cerita ditulisnya dengan kata-kata yang cerdas, penuh permainan kata-kata, penokohan yang mendalam, dan akhir cerita yang tidak terduga.

Cerpen "The Gift of the Magi" karya O Henry diterbitkan pertama kali pada tahun 1900


@htanzil



Wednesday, July 11, 2012

Menyusuri Lorong-Lorong Dunia jilid 3

[No.293]
Judul : Menyusuri Lorong-Lorong Dunia jilid 3
Penulis : Sigit Susanto
Penerbit : Insist Press
Cetakan : I, April 2012
Tebal : 307 hlm

"Tujuanku utamaku menulis catatan perjalanan ini ialah ingin berbagi sebanyak-banyaknya kepada kawan-kawan di Indonesia. Aku mencoba menggambarkan berbagai corak perbedaan di dunia, baik etnik, budaya, agama, ideologi"

Demikian ungkap Sigit Susanto ketika saya menanyakan apa alasannya menulis setiap perjalanannya menyusuri lorong-lorong dunia selama ini. Apa yang dikatakannya telah terbukti, dengan tekun penulis mencatat semua yang ia temui ketika menyambangi 36 negara di dunia. Ketekunan dan semangat berbaginya itu telah membuahkan 3 jilid buku yang bisa dikatakan sangat tebal untuk sebuah buku catatan perjalanan. Jika digabung seluruhnya menjadi 1.157 halaman! ( Jilid 1 = 373 hlm, jilid 2 = 477 hlm, jilid 3 = 307 hlm ).

Mengapa bisa demikian tebal? Ketiga buku tersebut memang tidak seperti kisah-kisah catatan perjalanan yang pada umumnya hanya mencatat keindahan obyek-obyek wisata dan pengalaman unik si penulis semata namun penulis juga menyuguhkan catatan tentang etnik, budaya, agama, politik, idelogi, sastra, dan sebagainya. Yang menarik, untuk mendapatkan data dari apa yang akan ditulisnya itu tak jarang penulis juga masuk ke pasar-pasar tradisional untuk menangkap realita kehidupan masyarakat yang sesungguhnya dari negara-negara yang dikunjunginya.

Di buku ke-3 nya ini penulis mencatat perjalanannya ke 11 negara di 3 benua berdasarkan kronologis waktu perjalanannya pada tahun 2002 hingga 2010 mulai dari Kenya, India, Turki, Yordania, Skandinavia, Polandia, Mesir, Italia, Hongkong, Kamboja, dan Yunani.

Ada banyak hal yang menarik yang terungkap dalam seluruh catatan perjalanan yang terkisahkan dalam buku ini, salah satu yang akan saya kemukakan di bukunya yang  ke-3 ini adalah kepedulian penulis terhadap para buruh migran yang bekerja di berbagai negara yang dikunjunginya. Di buku ini terlihat bagaimana penulis selalu menyempatkan diri untuk mewawancarai setiap orang Indonesia yang bekerja di negara asing yang dkunjunginya.

Di buku ini pula secara khusus penulis menulis 3 bab tentang kehidupan buruh migran di dua negara yang berbeda, satu bab tentang Orang-Orang Kontainer di Swiss dan tentang 130 ribu Buruh Migran Indonesia (BMI) di Hongkong yang ditulis dalam dua bab, Mengintip BMI di Hongkong, dan Hongkong Perlu Gunter Wallraf

Di bab yang berjudul "Orang-orang Kontainer" kita akan melihat bagaimana  kerasnya kehidupan 34 buruh asal Indonesia yang harus tinggal di bekas kontainer di tengah udara yang dingin menusuk tulang di Switzerland dengan gaji kurang dari Rp. 2 juta/bulan.  Dari gaji sebear itu, Rp.1 juta diberikan untuk istri atau keluarga mereka di Mojokerto, para buruh sendiri  hanya menerima uang saku sebesar Rp. 180 rb/bulan. Kemana sisanya? sisa gaji disimpan perusahaan untuk diberikan pada mereka jika pekerjaan selesai. Bisa dibayangkan bagaimana mereka harus bertahan dengan rp. 180 rb/ bulan di Eropa. Bandingkan juga dengan gaji buruh pabrik di Swiss yang memiliki gaji sekitar Rp. 34 jt/bulan !

Lain di Switzerland, lain pula keadaan buruh migran di Hongkong. Kehidupan para BMI di Hongkong jauh lebih baik, walau hanya sebagai pembantu rumah tangga hak-hak mereka  diatur oleh Undang-Undang. Mereka memiliki waktu libur sehingga seperti yang sering kita dengar di hari Minggu para BMI tumpah ruah memenuhi lapangan Victoria Park untuk berlibur dan bertemu dengan rekan-rekan sekampungya.

Selain tentang suasana di Victoria Park, penulis juga menceritakan pengalamannya berkunjung ke Perpustakaan Hongkong Central Library  yang berada di samping kanan Victoria Park.

Perpustakaan itu super mewah. Gedungnya tingkat 10. Khusus tingkat 5 menyediakan koran dan majalah berbahasa Indonesia. Di sela-sela rerimbunan manusia, ada beberapa orang kita sedang membaca majalah Gatra, Tempo, dan Bisnis Indonesia. ... Di sini pembantu rumah tangga ikut meluruk. Mereka haus informasi, ingin menimba ilmu, menyadap berita. Terutama yang berasal dari tanah air. Apalagi fasilitas intenet gratis tersedia pada setiap lantai.



Kami masuk lift di gedung tingkat 4 atau 5. Luar biasa di ruangan segi empat itu penuh manusia, semuanya perempuan dari Indonesia.... hampir semua monitor di atasnya menggantungkan webcam. Rata-rata mereka sedang chating dengan orang lain. Mungkin dengan pacarnya, saudaranya, kawannya, di tanah air.  (hlm 224-225)

Selain itu  dikemukakan juga dampak meluapnya buruh migran wanita Indonesia di Hongkong, antara lain   menumbuhkan gejala lesbian diantara para BMI. Penulis mencatat bahwa sekitar tahun 2002 gejala lesbian menyebar di kalangan BMI, mereka membuat kelompok yang solid, bahkan sudah ada yang berani terus terang menikah secara resmi sambil berpesta pora.

Lalu bagaimana dengan gaji para BMI di Hongkong?

Gaji para anggota BMI perbulannya rata-rata 3580 HK$ (sekitar 4 juta rupiah lebih). Gaji sebesar itu tidak dinikmati oleh BMI selama 7 bulan pertama karena harus dibayarkan ke pihak agen di Hongkong yang bekerja sama dengan PT di Indonesia yang memberangkatkan mereka.
Tak jarang agen dan PT banyak yang nakal. Bahkan agen di Hongkong sering mengancam, jika selama masa 7 bulan pertama tidak bekerja dengan baik, kemudian dikembalikan ke agen lagi. Pihak agen mengancam akan mengirim sebagai pekerja di rumah bordil sebagai pelacur. 
Tak sedikit BMI yang tidak mendapatkan gaji sesuai standard umum. Besarnya bervariasi antara 1800 HK$ sampai 2000 HK$ . Adapun kontrak kerja dengan majikan rata-rata selama 2 tahun. 


(hal 236)


Selain di Switzerland dan Hongkong yang ditulis secara khusus, di buku ini juga dikisahkan sedikit tentang seorang BMI  di Mesir yang ditemui penulis. Walau mereka telah bekerja 12 tahun sebagai pembantu rumah tangga namun mereka hanya digaji sebesar 150 EGP (sekitar Rp.300.000/bulan). Gaji yang lebih kecil dibanding jika mereka bekerja dengan profesi yang sama di tanah air.



 Selain soal buruh migran tentunya masih banyak hal-hal menarik dari buku ini yang  bisa memperluas wawasan pembacanya. Yang menjadi ciri khas dan menjadi pembeda buku ini dengan buku-buku catatan perjalanan lainnya adalah soal materi sastra. Di setiap negara yang dikunjunginya selalu ada kisah tentang buku, sastra dan sastrawan sehingga kita dapat berkenalan dengan sastra dan sastrawan dari negara yang dikunjungi  penulis.

Sayangnya di buku ke-3 nya ini tidak ada sastrawan yang ditulis secara khusus seperti di buku pertama yang membahas Franz Kafka dan James Joyce di buku keduanya. Padahal ketika penulis menulis tentang kunjungannya di Mesir nama Nawal El Sadawi disebut-sebut, tentunya buku ini akan lebih 'berisi' seandainya penulis memberikan 'bonus' berupa tulisan tentang sastrawan dunia asal Mesir yang buku-bukunya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia itu,

Yang juga disayangkan adalah foto hitam putih dan peta negara dalam buku ini. Untuk foto suasana, bangunan, dan orang masih terlihat cukup jelas, yang parah adalah foto peta di setiap babnya. Karena foto peta itu terlalu kecil dan buram maka kehadiran peta di tiap bab buku ini menjadi mubazir karena tidak mungkin terbaca. Sebetulnya hal ini bisa disiasati dengan mengganti halaman berisi foto dengan kertas yang lebih baik seperti yang dilakukan di buku kedua dimana setiap foto dicetak berwarna diatas kertas art paper, sehingga bisa terlihat dengan jelas.

Terlepas dari hal di atas, buku ini sangat menarik untuk dibaca bagi siapa saja yang ingin mendapat gambaran negara-negara di dunia lengkap dengan budaya, politik, dan sastra. Detailnya penulis menggambarkan dan menangkap realita yang ditemuinya selama perjalanannya membuat ada banyak kejutan yang akan kita temui dalam buku ini, misalnya Suku Masai di Kenya yang minum darah sapi dicampur susu, patung dewa di Mesir untuk perempuan hamil .yang harus dilihat sambil tersenyum supaya terkabul bisa hamil, hingga pop-mie buatan Indomie di pasar tradisional Yordania.

@htanzil


Review :
Menyusuri Lorong-Lorong Dunia jilid 1
Menyusuri Lorong-Lorong Dunia jilid 2

Tuesday, July 10, 2012

Picture of Wisdom

[No. 292]
Judul : Picture of Wisdom
Penulis : Stefan Marzuki
Penerbit : Create Space
Tebal : 24 hlm

Kita mungkin sering mendengar orang mengatkan "A picture worth 1000 words". Ya, Itulah kekuatan sebuah gambar/foto. Sebuah gambar bisa memberi banyak makna tergantung sudut pandang masing-masing yang melihatnya. Begitupun yang tedapat dalam e-book ini. Buku ini adalah buku pengembangan diri (Self Help), namun tidak seperti buku-buku pegnembangan diri pada umumnya yang berisi teks berupa teori dan langkah-langkah praktis yang harus dilakukan oleh pembacanya, buku ini hanya berisi  gambar. Bukan komik, karena di buku ini sama sekali tidak ada balon percakapan. Semua isi buku ini adalah gambar.

Buku ini berisi 21 gambar-gambar yang menghibur sekaligus bermanfaat untuk dimaknai dan direnungkan oleh mereka yang melihatnya. Semua gambar-gambar menariknya dibuat secara detail dan full colour. Satu tema dibuat satu halaman gambar, kecuali ada satu gambar yang membutuhkan dua halaman buku. Ada yang membuat kita tersenyum, berpikir, namun ada juga yang membuat kening kita berkerut karena mencoba mencari tau apa maksud dari gambar-gambar tersebut.

Buku ini tentunya selain bermanfaat untuk diri sendiri tampaknya cocok juga dijadikan kado yang bermanfaat untuk rekan atau sahabat kita . Selain bagi pembaca awam, buku ini juga sepertinya bermanfaat untuk para motivator atau trainer pengembangan diri yang bisa diapakai untuk mengajar di kelas-kelas training mereka.

Yang mungkin menjadi kekurangan dalam buku ini adalah tidak adanya judul di tiap-tiap gambar kecuali di bagian daftar isi. Tentunya akan lebih baik jika di setiap panel gambar disertakan juga judul gambarnya untuk menuntun pembaca mengetahui mana gambar tunggal dan mana gambar yang bersambung ke halaman berikutnya.

Buku ini hingga review ini dibuat belum diterbitkan di Indonesia namun sudah bisa diperoleh di Amazon.com dan Blurb.com. Untuk versi e-booknya, buku ini bisa diperoleh di situs Picture of Wisdom .Kabarnya buku ini juga akan terbit di Indonesia dalam versi cetaknya.


Berikut ini dua gambar yang ada dalam buku "Picture of Wisdom"





@htanzil

Friday, June 29, 2012

Misteri Perawan Kubur by Abdullah Harahap

[Buku yg Sedang Kubaca] : Misteri Perawan Kubur

Judul : Misteri Perawan Kubur
Penulis : Abdullah Harahap
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Agustus 2010
Tebal : 318 hlm

Ini bukan review, karena bukunya masih sedang kubaca, tapi karena bertepatan dengan momen #postingbareng #Gothic yang diselenggarakan Blogger Buku Indonesia (BBI) maka saya akan sedikit cerita tentang fiksi gothic lokal yang sedang saya baca ini :

Ini buku pertama karya Master Horor Indonesia Abdullah Harahap (AH), dulu di tahun 80-an saya sering melihat novel2 horor karya AH dengan cover2 yang seronok sekaligus menyeramkan (umumnya bergambar wanita cantik dan mahluk berwajah seram). Walau saat itu sudah hoby baca saaat itu saya tidak berani membacanya.

Kini karya2 AH kembali muncul dan diterbitkan oleh Paradoks, salah satu imprint penerbit besar Gramedia Pustaka Utama. Awalnya waktu pertama kali karya-karya Abdullah Harahap terbit saya penasaran ingin membacanya, namun baru kali ini berkesempatan membacanya berhubung pas dengan tema posting bareng yang digagas kawan2 BBI.

Dalam novelnya ini dikisahkan hantu "Nona"/ perawan kubur yang sebenarnya merupakan hantu fiktif dari sebuah cerita bersambung (cerbung) karya Ramandita yang dimuat di sebuah koran nasional tiba-tiba muncul di dunia nyata, bertemu dengan penulisnya, bahkan sempat bercinta dengan penulisnya... ups!

Siapa sebenarnya si Nona ini? Nona adalah anak dari Larasati, dikisahkan Larasati adalah korban dari kesewenangan penduduk desa Cikalong. Ia mati dibunuh dengan kepala terpenggal karena penduduk menduga bahwa Larasati lah yang menyebabkan kampung cikalong terkena wabah penyakit yang mematikan. Saat dibunuh ternyata Larasati dalam keadaan hamil. Nah anak dari Larasati itulah yang kemudian bangkit ke dunia nyata menemui Ramandita guna mencari tahu siapa sebenarnya ayahnya dan membalas dendam kesumatnya atas kematian ibunya.

Ternyata si Nona hantu perawan ini tak hanya mencari Ramadita melainkan menebar teror dengan membunuh orang-orang yang bercinta dengannya. Akibatnya sungguh menakutkan setiap orang yang bercinta dengannya dihisapnya hingga yang tersisa hanya seonggok tengkorak dengan sedikit sisa-sisa daging berbecak darah.

Sejauh yang telah saya baca, novel ini bernuansa suram namun belum sampai membuat saya merinding kecuali membayangkan tengkorak dengan serpihan daging atas korban si perawan kubur.  Sepertinya cover novel ini lebih menyeramkan dibanding kisahnya, tapi ini baru sejauh yang telah saya baca ya, entah kalau di lembar-lembar berikutnya saya akan dibuat ketakutan membaca kisah pembalasan dendam si perawan kubur ini.

Selain kisah horor, novel ini juga menyuguhkan kisah pengungkapan misteri si Nona perawan kubur ini layaknya sebuah kisah detektif karena ada pihak kepolisian dan Ramandita si penulis yang selalu mencoba bersikap rasional dalam menghadapi hantu ciptaannya yang muncul dalam dunia nyata.

Demikian sedikit tentang novel Misteri Perawan Kubur yang masih sedang saya baca ini.


Oya, ternyata penulisnya tak kalah seram dengan karya-karyanya. 
Ini foto Abdullah Harahap dalam salah satu publikasi terkait kemunculannya kembali dalam ranah sastra gothic Indonesia :




@htanzil




Draculla by Bram Stroker

Vampir adalah legenda abadi karenanya tak heran kalau kisah-kisah vampir selalu ada dan terus dikisahkan dari waktu ke waktu. Salah kisah vampir yang legendaris adalah kisah Drakula. Drakula menjadi kisah populer di dunia setelah novel tentangnya ditulis oleh Bram Stoker ... tahun yang lalu.

Kini kisah Drakula sudah diadaptasi kedalam berbagai bentuk baik itu berupa novel, drama, film, dsb. Saking banyaknya kisah Drakula diadaptasi sepertinya di masa kini tidak banyak orang yang mengetahui atau membaca bagaimana sebenarnya kisah Drakula versi Bram Stroker yang masuk dalam kategori Best Gothic Books Of All Time

Karenanya dalam rangka #postingbareng kisah-kisah Gothic yang diadakan Blogger Buku Indonesia (BBI) di bulan ini, maka izinkan saya me-repost kembali review lama saya atas novel Drakula karya Bram Stroker ini yang pernah saya posting di tahun 2007 yang lalu.

Selamat menyimak...

Judul : Dracula
Penulis : Bram Stroker
Penerjemah : Ny. Suwarni A.S
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Mei 2007
Tebal : 528 hlm ; 20 cm


Dracula, adalah monster vampir yang usianya telah mencapai ratusan tahun. Ia memiliki kekuatan sama dengan dua puluh orang. Kelicikannya yang luar biasa tumbuh bersama masa hidupnya dari abad ke abad. Ia memiliki kemampuan sihir. Semua orang mati berada di bawah perintahnya. Dia setan bengis yang tak punya hati. Dalam batas-batas tertentu dia bisa muncul kapan dan di mana saja, dan dalam batas kemampuannya dia bisa memerintah keadaan alam, badai, kabut dan petir. Bisa pula memerintah binatang seperti tkus, kelelawar, rubah , serigala dan beruang. Dia bisa pula menjadi serigala atau kelelawar. Bisa menghilang dan menjelma menjadi kabut pekat.

Sepak terjang Dracula menjadi legenda selama berabad-abad. Sebagian mempercayainya dia benar-benar ada, sebagian menganggap hanya kisah tahayul belaka. Tak seorangpun berani membuktikan keberadaannya apalagi memburunya hingga akhirnya ada enam orang pemberani yang memiliki syaraf baja untuk memusnahkan dan membuangnya ke neraka paling dalam hingga tak lagi mengganggu umat manusia yang berada di bumi ini.

Mereka adalah Mina Harker yang dengan keberaniannya telah menyelamatkan suaminya, Jonathan Harker, seorang penasehat hukum dari kegilannnya setelah secara tak disadarinya bertemu langsung dengan Count Dracula dan membuka jalan bagi vampir itu untuk memasuki Inggris. Quincey Morris, jutawan petualang, Arthur Holmwood (Lord Goldaming), seorang bangsawan Inggris, Dr. John Seward, kepala rumah sakit Jiwa di Inggris, dan Prof. Abraham Van Helsing, dokter bedah asal Amsterdam dan satu-satunya dari kelima orang diatas yang mengetahui kekuatan vampir serta bahaya yang mengancam hidup dan jiwa para pemburunya. Hanya dia yang tahu artinya menantang kejahatan Dracula.

Keenam orang ini dipersatukan untuk memburu Dracula karena orang yang mereka kasihi, Lucy Westenra mati dan berubah wujud menjadi vampir yang meneror anak-anak di London. Lucy adalah korban pertama yang dipilih Count Dracula di Inggris. Semua berawal ketika Jonathan Harker ditugaskan oleh kantor pengacaranya untuk mengunjungi Count Dracula di purinya di Transylvania guna mengurus pembelian beberapa rumah di London – Inggris. Awalnya Jonathan tak mengira bahwa kliennya adalah mahluk vampir hingga akhirnya ia menemukan beberapa keanehan di puri tersebut dan menyadari bahwa dirinya terperangkap dalam puri Dracula. Walau akhirnya Jonathan bisa meloloskan diri dari puri setan tersebut, jiwanya terguncang dan menderita demam otak hingga harus dirawat di Budapest selama berminggu-minggu.

Ketika sembuh, Jonathan pulang ke Inggris dan menikah dengan Mina yang merupakan sahabat Lucy Westenra. Adapun Count Dracula setelah urusannya dengan Jonathan Harker selesai, ia segera berangkat ke Inggris dengan membawa beberapa peti dan menumpang sebuah kapal Rusia. Kapal yang ditumpanginya itu terombang-ambing terdampar di pantai Wiltby Inggris, anehnya ketika sampai di pelabuhan tak seorang awak kapalpun yang ditemukan kecuali mayat nahkoda kapal yang terikat pada kemudi kapal. Dalam kantungnya terdapat secarik kertas yang menceritakan kejadian-kejadian mengerikan di atas kapalnya. Selain itu beberapa saksi mata melihat bahwa ada seekor anjing besar melompat dari kapal dan kabur menuju pekuburan umum.

Korban pertama yang dipilih Dracula di Inggris adalah , Lucy Westenra yang saat itu sedang diperebutkan oleh berapa pria sekaligus yaitu Quincey Morris, Dr. Seward, dan Lord Goldaming. Walau akhirnya Lucy memilih Lord Goldaming sebagai calon suaminya, kebahagiaannya tiba-tiba terengut ketika kesehatan Lucy menurun drastis. Lucy selalu tampak lemas dan kekurangan darah. Di lehernya tampak dua luka seperti bekas gigitan binatang Awalnya Dr. Seward yang merawatnya tak bisa menyembuhkannya, kondisi Lucy yang semakin memburuk hingga akhirnya Dr Seward mengundang rekannya Prof Van Helsing untuk memeriksa Lucy. Dari diganosa Van Helsing inilah akhirnya diketahui apa penyebab sakitnya Lucy.

Nyawa Lucy tak terselamatkan dan berubah menjadi vampir. Dengan sangat terpaksa jasad Lucy harus dipenggal kepalanya dan ditusuk jantungnya dengan pasak kayu oleh orang-orang yang mengasihinya. Setelah kematian Lucy, Van Helsing beserta Dr. Seward, Quincy Moris, Lord Goldaming, dan pasangan Jonathan dan Mina Harker memburu keberadaan Dracula di Inggris, mereka menyatroni rumah-rumah yang dibeli Count Dracula untuk menyucikan peti-peti yang merupakan tempat peristirahatannya di Inggris hingga memburunya ke Puri Dracula di Translyvania.


Kisah diatas adalah novel horor klasik karya Bram Stoker – Dracula. Novel yang pertama kali terbit pada tahun 1897 ini bisa dikatakan merupakan novel yang pertama kalinya mempopulerkan kisah dracula/vampir. Setelah itu ratusan buku dan film tentang dracula bermunculan hingga kini. Salah satunya adalah novel The Historian karya Elizebth Kostova yang mengaku terinspirasi dari karya Bram Stoker ini. Sedangkan di ranah film, salah satu film terkenal yang diadaptasi dari novel Dracula adalah film besutan sutradara kondang Francis Ford Coppola yang berjudul Dracula (1992). Film ini dibintangi oleh artis-artis papan atas Hollywod seperti Keanu Reaves, Anthoni Hopkins, Winona Ryder, dll.

Novel Dracula ini ditulis Bram Stroker layaknya sebuah buku harian, atau istilah sastranya dikenal dengan ‘epistolary novel’ dimana isinya merupakan kumpulan catatan harian, telegram, surat-surat para tokoh-tokohnya, kliping surat kabar, alat rekam, dll. Gaya penulisan seperti ini lazim ditemui di novel-novel abad 19. Jadi dalam novel ini pembaca akan disuguhkan berbagai catatan harian yang disusun secara urut tanggal dari para tokoh-tokohnya yaitu Jonathan Harker, Mina Harker, Lucy, Dr. Seward, dan Van Helsing. Selain itu terdapat juga artikel surat kabar, isi sebuah telegram, dan surat menyurat antar para tokohnya.

Uniknya walau ditulis dengan cara seperti ini, semuanya terangkai dengan sempurna dan membentuk sebuah kisah yang menarik. Catatan-catatan ini tersaji secara linier dari hari- kehari, kadang mundur sedikit kebelakang atau terdapat beberapa tanggal yang sama untuk melihat sebuah kejadian dari sudut pandang tokoh lain. Hal ini membuat karakter tokoh-tokohnya menjadi kuat karena mengungkap kondisi jiwa para tokohnya menurut perasaannya masing-masing. Hanya saja rupanya Bram Stroker terjebak dalam gaya tuturan yang sama antara tokoh satu dengan yang lainnya, padahal sejatinya catatan harian tiap orang pasti memiliki gaya penulisan yang berbeda.

Karena novel ini ditulis di abad ke 19, tentu saja plot kisah novel ini tidak secepat novel-novel horor jaman kini. Beberapa bagian bahkan terkesan sangat romantik dan mendayu-dayu. Tidak ada ketegangan yang belebihan pada novel ini. Deskripsi yang lazim dalam novel-novel horor seperti darah, kekerasan, dan prosesi pemusnahan mayat yang telah menjadi vampir dideskripsikan dengan wajar sehingga tak membuat pembacanya mual atau bergidik jijik. Namun novel ini tetap menarik untuk dibaca. Pembaca akan dibawa dalam suasana kota London yang kelam ketika matahari beranjak terbenam. Emosi para tokoh-tokohnya tereksplorasi secara mendalam, disini tampak kelihaian Stroker meninjau ke dalam jiwa manusia yang dilanda ketakutan.

Selain menyuguhkan kekelaman, kengerian dan serunya kisah perburuan Dracula. Novel ini bisa dipandang sebagai sebuah novel tentang perubahan peran gender, pergumulan antara tradisi dan modernisasi di akhir abad 19. Di sepanjang cerita, terdapat berbagai referensi atas perubahan peranan gender; Mina Harker adalah seorang wanita modern, yang kecerdasannya yang membuat kagum para tokoh prianya. Ia fasih menggunakan mesin tik. Ia juga menggunakan akal sehatnya dalam melacak keberadaan Count Dracula.

Dalam hal tradisi dan modernisasi, melalui novelnya ini Bram stroker juga menguraikan mengenai menyatunya tradisi (tradisi rakyat dan agama) dan modernisasi. Hal ini terlihat jelas pada tokoh Van Helsing, seorang dokter yang menggunakan cara-cara modern dalam menyelamatkan nyawa Lucy seperti transfusi darah (bisa dibayangkan bagaimana transfusi darah di abad ke 19!), namun ia juga melakukan tindakan diluar nalar seperti menggunakan bawang putih sebagai penangkal vampire, mensterilkan peti Dracula dengan hosti (roti perjamuan kudus), dll.

Melihat luasnya cakupan yang ditulis Stoker dalam novelnya ini, tak heran jika novel ini menjadi novel klasik yang walau telah berusia lebih dari satu abad namun terus dikenang orang hingga kini. Rl. Fisher dalam kata pengantar novel ini mengungkap bahwa novel ini menjadi abadi bukan karena penulisnya, bukan pula karena keistimewaan plotnya, gayanya, dialognya atau pada bagian-bagian deskriptifnya.

Menurutnya yang menjadi keistimewaan Dracula adalah temanya yang luar biasa kuat, penggunaan sudut pandangnya yang beragam, kemampuan Stroker untuk mencakup beberapa bidang (intelektual, emosional, maupun seksual), serta adanya beberapa peristiwa yang benar-benar mengerikan, dan mungkin yang paling penting adalah kemampuan penulisnya meninjau ke dalam jiwa manusia. Efek Dracula sangat cocok kalau disamakan dengan efek mimpi buruk.

Kita tak bisa menyentuh mimpi buruk, bahkan tak bisa menimbang atau mengukurnya. Tak seorangpun bisa membantah rasa takut yang ditimbulkannya pada diri kita. Jadi keberhasilan Dracula untuk bertahan adalah berkat kemampuan Bram Stroker untuk melihat dunia dari segi di mana mimpi adalah kenyataan dan kesadaran adalah mimpi (hal 14)

Novel Dracula ini pernah diterbitkan oleh Gramedia pada tahun 90-an, kini Gramedia menerbitkan ulang Dracula dalam kemasan yang menawan. Sampul bukunya dibuat menyerupai buku-buku kuno lengkap dengan bercak-bercak keusangan.

Warna cover hitam pekat dengan tulisan “Dracula – Bram Stroker dalam bingkai emas. Punggung bukunya dibuat dengan beberapa ukiran emas khas buku-buku abad 19. Sedangkan pinggir halamannya disalut dengan warna merah darah. Kemasan seperti ini tentu saja membuat orang penasaran terhadap buku ini dan membawa pembacanya untuk masuk dalam abad ke 19 dimana novel ini untuk pertama kalinya diterbitkan.





 
Tentang Penulis


Abraham "Bram" Stoker dilahirkan di dekat Dublin pada tanggal 8 November 1847. Ia bermimpi menjadi penulis sejak masih sangat muda, ketika berbaring di ranjang karena penyakit aneh yang sulit dikenali. Karena merasa harus mengalah pada keinginan orangtuanya, selama delapan tahun ia berkarier sebagai pegawai negeri. Namun ia terus menulis, mulai dari kisah fantasi impian sampai ulasan drama panggung. Ia juga masih punya waktu sebagai kritikus teater, editor, dan menulis resensi tentang rujukan teater. Henry Irving, aktor panggung terkenal, membawanya masuk lebih jauh ke dunia teater, sebagai manajer aktor di London`s Lyceum Theater. Novel lengkapnya yang pertama, The Snake`s Pass, terbit tahun 1890, tahun saat ia memulai riset tentang karya akbarnya, Dracula. Diluncurkan ke tengah pembaca bebarapa tahun kemudian, cerita dengan tema luar biasa ini mengangkat tokoh utamanya yang haus darah, Count Dracula, ke arah kemasyhuran ...dan terus bertambah populer bahkan sampai satu abad kemudian.

 @htanzil

Monday, June 11, 2012

Sepatu Dahlan


[No. 291]
Judul : Sepatu Dahlan
Penulis : Khrisna Pabichara
Penerbit : Noura Books
Cetakan : I, Mei 2012
Tebal : 369 hlm


Dahlan Iskan  bisa dikatakan sebagai sosok menteri  di jajaran Kabinet Indonesia Bersatu jilid 2 yang paling dikenal oleh rakyat Indonesia. Menteri yang dikenal disiplin dalam tugasnya, temperamental namun murah senyum ini sering dianggap kontroversial baik dari kiprahnya maupun keputusan-keputusan yang diambilnya, namun Presiden SBY  memujinya sebagai menteri yang cekatan dan responsif

Disamping  itu Dahlan Iskan juga dikenal sebagai sosok yang bersahaja, dalam menjalankan tugasnya Dahlan Iskan rela berkeringat ikut naik KRL,  menyantap soto di pinggir jalan, menginap di rumah petani miskin dan tidur terlelap hanya dengan beralas tikar, dan sebagainya. Dari segi berpakaikan pun ia pun sangat sederhana, sementara menteri lain mengenakan jas atau batik  ia lebih suka mengenakan  baju putih lengan panjang yang digulung dan sepatu kets sebagai alas kakinya kemanapun ia pergi.

Siapa sebenarnya Dahlan Iskan, mengapa ia begitu disiplin, tidak canggung bergaul dengan rakyat dan selalu menggunakan sepatu kets?  Jawabannya mungkin bisa kita peroleh melalui novel Sepatu Dahlan karya Khrisna Pabichara yang kisahnya terinspirasi dari masa remaja Dahlan Iskan.

Novel Sepatu Dahlan yang merupakan bagian pertama dari Trilogi Novel inspirasi Dahlan Iskan ini mengisahkan kehidupan Dahlan Iskan saat remaja. Melalui novel ini terungkap bahwa Dahlan Iskan dibesarkan dalam keluarga miskin di desa Kebon Dalem, Magetan, Jawa Tengah  yang harus berjuang guna memenuhi kebutuhan dasar hidupnya.  Namun sedari kecil kedua orang tuanya selalu menekankan bahwa hidup miskin bukan berarti harus meminta-minta untuk dikasihani melainkan harus dihadapi dengan bekerjadan berusaha.

Kehidupan mendidik Dahlan kecil dengan keras. Perih karena rasa lapar tak jarang harus dialaminya, sampai-sampai ia dan adiknya harus melilitkan sarung di perutnya untuk menahan perih lambungnya karena lapar. Meskipun  hidup dalam kekurangan keluarganya tetap mengutamakan pendidikan bagi anak-anaknya. Walau tak memiliki sepatu  Dahlan rela berjalan kaki puluhan kilometer untuk bersekolah tanpa alas kaki. Perih karena lecet pada kakinya yang tak bersepatu tak membuatnya malas bersekolah. Alih-alih malas ia menyimpan dua impian besar di masa kecilnya yaitu memiliki sepatu dan sepeda.

Impian itu terus membayangi kehidupan masa kecil hingga remajanya, ia terus berusaha mengejar impiannya. Walau kehidupannya semakin sulit ditambah kesedihannya ditinggal oleh orang-orang yang disayanginya mimpinya memiliki sepatu dan sepeda tak pernah hilang hingga akhirnya ketika Dahlan telah berhasil meraih mimpinya itu ia sadar bahwa ada mimpi lain yang harus ia raih, mimpi besar untuk melawan kemiskinan yang mendera keluargaya yang harus diikhiarkannya dengan bekerja kerjas.

 






Dahlan Iskan di Istana Negara 
dengan kemeja putih 
dan sepatu ketsnya.
  











Novel ini menginspirasi pembacanya untuk tidak menyerah oleh keadaan. Kehidupan Dahlan kecil yang serba kekurangan terkisahkan dengan sangat  baik sehingga menyentuh nurani kita yang mungkin lebih beruntung dibanding Dahlan kecil. Novel ini juga menyadarkan kita bahwa kemiskinan bukanlah akhir dari segala-galanya malahan dalam sebuah petuahnya, ayah Dahlan berkata bahwa “Kemiskinan yang dijalani dengan tepat akan mematangkan jiwa”.

Sejarah hidup Dahlan telah membuktikan petuah ayahnya ini, Dahlan kecil memang terlihat lebih matang dibanding anak seusianya dan kematangan jiwanya itulah yang juga menghantarnya hingga bisa menjadi seorang menteri yang disgani. Masa kanak-kanaknya harus dilalui dengan keras, ketika anak-anak lain beria-ria bermain atau beristirahat sepulang sekolah, Dahlan harus menyabit rumput, mengangon domba, menjadi kuli seset di kebun tebu, dll untuk membantu keluarganya. Walau hidupnya sulit Dahlan tak lantas kehilangan keceriaannya, novel ini menceritakan dengan jelas bagaimana anak-anak miskin seperti Dahlan tetap memiliki keceriaan masa kanak-kanak dengan caranya sendiri.

Selain menceritakan perjuangan Dahlan mengejar mimpinya memiliki sepatu, pahitnya kehidupan yang dihadapinya, dan juga persahabatannya dengan teman-temannya, novel ini juga mengungkap sejarah pembantaian  masal di sumusr-sumur tua di Sococ, Cogrok, dan Dusun Dadapan, Magetan terhadap anggota atau simpatisan PKI

Seluruh kisah Dahlan dan mimpinya dalam novel ini memang patut untuk diapresiasi dengan baik. Penulis mampu merangkai sebuah kisah yang menarik dari awal hingga akhir dengan nuansa sastrawi yang menarik sehinga  novel yang diawali saat Dahlan Iskan hendak dioperasi cangkok liver di tahun 2007 lalu flash back ke masa kecil Dahlan ini tak hanya enak dibaca melainkan mampu melibatkan emosi pembacanya dan menginpirasi pembacanya untuk tidak menyerah oleh keterbatasan.

Bersyukur walau yang dikisahkan dalam novel ini adalah sosok seorang tokoh terkenal namun penulis tak terjebak dalam menulis hal-hal yang baiknya saja. Dahlan dalam novel ini tidak digambarkan sebagai sosok yang sempurna, sama seperti anak-anak lainnya Dahlan juga dikisahkan melakukan kenakalan seperti anak-anak lainnya seperti mencuri tebu, mencoba membongkar lemari ayahnya agar bisa mendapat uang untuk membeli sepatu, memiliki nilai merah di raportnya, dan sebagainya.

Sepatu yang menjadi impian Dahlan kecil mengikat keseluruhan kisah dalam novel ini sehingga pembaca dibuat ikut merasakan bagaimana besarnya keinginan Dahlan untuk memiliki sepatu. Sayangnya penulis tidak menceritakan seperti yang diungkap Dahlan Iskan dalam pengantar novel ini, yaitu ketika akhirnya ia berhasil memiliki sepatu ia tetap nyeker sambil menenteng sepatu agar sepatunya itu tetap awet. Tentunya ada banyak sisi-sisi menarik yang bisa digali dan dikisahkan saat Dahlan untuk pertama kalinya memiliki sepatunya hasil dari jerih upayanya sendiri.

Terlepas dari hal di atas dengan segala kelebihan dan kelemahannya novel ini sepatutnya dibaca oleh siapa saja dengan range usia yang cukup panjang, mulai dari anak remaja hingga para orang tua. Ada banyak nilai-nilai kekeluargaan,  kedisiplinan, ketekunan, perjuangan, persahabatan, plus romansa remaja yang tercemin dalam kisah Dahlan dan sepatunya ini.

Selain itu melalui novel ini pula kita bisa memahami apa yang melatari sosok  Dahlan Iskan seperti yang kini dikenal dengan kenyentrikan, kesederhanaan, dan kerja kerasnya. Seperti apa kata Panda Nababan (Wakil Pemred RCTI) dalam komentarnya di novel ini :

"Kesederhanaan, rendah hati dan kerja keras yang dibarengi keteguhan hari, bukanlah sekedar gerbakan. Tapi itu semua adalah bentuk ucapan syukur Pak Dahlan terhadap apa yang pernah dilaluinya dan sudah dicapai”

Seperti yang sudah diduga karena novel ini hadir di tengah popularitas Dahlan Iskan yang tengah meroket, novel ini segera mendapat sambutan yang sangat positif dari masyarakat Indonesia. Terbukti hanya dalam waktu empat hari setelah terbit, novel ini telah terjual sebanyak 12 ribu ekslempar. Semoga dengan semakin banyak orang yang membaca novel ini semakin banyak pula orang yang terinpirasi dari kisah kehidupan Dahlan Iskan.

@htanzil

Tuesday, May 15, 2012

 
[My Wishlist] 
GOD'S SMUGGLER
keterangan tentang buku ini bisa dibaca di blog buku Manna Surgawi
blog khusus buku-buku rohani


Thursday, May 03, 2012

Gadis Kretek by Ratih Kumala

GADIS KRETEK

[No. 290 ]
Judul : Gadis Kretek
Penulis : Ratih Kumala
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan :  Maret 2012
Tebal : 274 hlm

My Rating 4 of 5 stars

"Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin"

Demikian kalimat label peringatan itu kerap kita baca di kemasan rokok atau iklan-iklan rokok, namun jangan kaget kalau ternyata label peringatan itu tertera di sebuah novell Gadis Kretek karya Ratih Kumala. Mengapa? Apakah dengan membaca novel ini maka kita akan ketagihan untuk merokok?

Novel dengan cover sangat menarik sekaligus provokatif berupa ilustrasi etiket rokok bergambar seorang gadis berkebaya yang sedang memegang rokok ini memang kaya dengan wangi tembakau, bukan karena kertasnya beraroma tembakau namun karena kisahnya berlatar belakang keluarga pengusaha pabrik rokok kretek.

Kisah Gadis Kretek dimulai saat Soeraja, pemilik pabrik kretek  Djagad Raja, kretek nomor satu di Indonesia sedang sekarat. Dalam menanti ajalnya, ia menggigau-ngigau sebuah nama wanita “Jeng Yah” nama wanita yang seharusnya tak lagi boleh diucapkan dari mulut Soeraja yang telah beristri dan memiliki tiga orang anak yang telah dewasa. Nama itu kontan membangunkan hantu masa lalu yang selama ini dikubur rapat-rapat oleh Soeraja dan istrinya dan hal ini tentu saja membuat kegundahan di keluarga Soeraja.

Tegar, Karim, dan Lebas, tiga putra Seoraja sekaligus pewaris kerajaan Kretek Djagad Raja  berusaha mencoba mencari tahu siapa Jeng Yah yang diigaukan oleh ayah mereka. Ketika akhirnya diketahui bahwa ayah mereka ingin bertemu dengan Jeng Yah  mereka segera berangkat pergi ke pelosok Jawa, berlomba dengan malikat maut untuk mencari Jeng Yah sebelum ajal menjemput sang Ayah

Pencarian ini akhirnya membuat mereka menyelusuri sejarah Kretek Djagad Raja, perjuangan sang ayah  mendirikan kerajaaan kreteknya dan kisah cinta ayah mereka dengan Jeng Yah, si Gadis Kretek yang yang menemukan ramuan istimewa rokok kretek dari sari cengkeh yang menempel di tangannya dan ludah manisnya saat ia melinting rokok khusus untuk ayahnya

Tak hanya itu, dalam novel ini juga dikisahkan bagaimana ketatnya persaingan antara Idroes Moeria, ayah Jeng Yah dengan Soejagad, teman masa kecilnya yang bermula dari persaingan memperebutkan seorang gadis hingga terus berlanjut ke persaingan bisnis kretek dengan intrik-intrik yang tak terduga.

Persaingan antara Seodjagad dengan Idroes Moeria terus berlangsung, namun usaha Idroes Moeria dengan merek dagang Kretek Gadis tetap berjaya apalagi setelah  Jeng Yah dan Soeraja ikut mengelola pabrik Kretek Gadis.  Kedekatan Jeng Yah dengan Soeraja dalam mengelola Kretek Gadis menumbuhkan cinta diantara mereka sayangnya ketika mereka hendak menikah, peristiwa G30S memporak-porandakan cita-cita mereka.

Seperti diungkapkan di awal review ini, buku ini sarat dengan aroma tembakau. Dari awal hingga akhir cita rasa tembakau, cengkeh, rokok kretek,  mewarnai novel ini. Tampaknya novel ini dipersiapkan dengan riset yang cukup matang. Dengan lancar penulis mengurai segala sesuatu tentang kretek, sejarah kretek, cara membuat kretek mulai dari penggunaan daun jagung yang dikeringkan/kolobot  lalu diisi tembakau plus cengkeh, klobot  klembak menyan,  hingga akhirnya menggunakan papier (kertas pembungkus campuran tembakau).

Dengan fasih, penulis juga mengisahkan tahap-tahap pembuatan rokok kretek secara manual dari masa ke masa, mulai dari penggunaan  tembakau dan cengkeh  hingga akhirnya ditambah dengan saus (tobacco flavor) yang menjadikan rokok kretek semakin beraroma dan nikmat. Di novel ini juga kita akan mengetahui kalau dahulu kala rokok kretek juga dijual di toko obat karena cengkeh yang terkandung dalam rokok  dipercaya dapat menyembuhkan penyakit asma.

Selain tentang kretek yang melatari  kisah cinta Gadis Kretek dan persaingan antar pengusaha kretek, novel ini juga dilatari oleh peristiwa paska  G30S. Saat dimana partai komunis dan semua yang tersangkut di dalamnya ditangkap, ditembaki, dan dibuang ke sebuah kali.

Lewat tokoh Soeraja kita akan melihat bagaimana Soeraja yang buta politik akhirnya menjadi korban keganasan penduduk dan aparat yang marah terhadap PKI. Saat Soeraja membutuhkan modal untuk mendirikan pabrik kretek ternyata  Partai Komunis di kotanya bersedia memberikan modalnya. Naluri bisnisnya menggerakkannya untuk  membuat kretek cap Arit Merah dengan pemikiran rokok itu akan banyak diminati orang khususnya pendukung Partai Komunis yang saat itu merupakan partai besar dan resmi yang tentunya memiliki massa yang sangat banyak.

Soeraja tidak berpolitik ia hanya menjalankan bisnisnya, namun ia tak luput dari kejaran aparat dan warga yang menuduhnya antek komunis untungnya ia dapat melarikan diri, tak hanya dirinya, Idroes moria dan si Gadis Kretek ikut ditangkap dengan alasan pernah mempekerjakan Soeraja . Dan yang lucu, salah satu alasan ditangkapnya Idroes Moeria adalah karena rokok Kretek Merdeka produksinya menggunakan kertas papier berwarna merah,warna PKI, padahal Indoes membuatnya jauh sebelum peristiwa G30S dan warna merah ia pakai untuk mengingatkan perokoknya akan bendera merah putih.

Yang membuat novel ini menarik  adalah bagaimana penulis menggabungkan berbagai latar dan kisah seperti  sejarah kretek, kisah cinta, intrik persaingan bisnis, pertarungan harga diri, plus sisi budaya dan historis yang melatarinya  dengan porsi yang tepat dalam rangkaian kalimat-kalimat yang sederhana  sehingga semua unsur tersebut menyatu menjadi sebuah rangkaian kisah yang membuat  kita betah untuk terus membacanya hingga akhir.

Namun sayangnya, ada beberapa hal yang menjadi kekurangan dalam novel ini. Kisah Gadis Kretek  sendiri  dan eksplorasi karakter Gadis Kretek yang menjadi judul novel ini saya rasa kurang tergali dan kurang mendominasi, masih kalah porsinya dibanding kisah Idroes Moeria (ayah Gadis Kretek) dan Soeraja (kekasih Gadis Kretek) sehingga dibanding sang Gadis Kretek kita akan lebih banyak melihat kisah kegigihan Idroes Moeria dan Soeraja dalam meraih cinta dan menjalankan pabrik kreteknya. Andai saja porsi kisah dan karakter Gadis Kretek lebih ditonjolkan tentunya novel ini akan semakin menarik.

Selain itu novel ini juga sangat lemah dalam hal editing, beberapa typo masih ditemui di sana sini. Ada penulisan nama tokoh yang  tertukar, kejanggalan logika cerita , ketidak konsistenan penggunaan ejaan lama dan sebagainya.  Saya tidak akan mengungkapkannya secara detail di sini karena kejanggalan atau kesalahan-kesalahan yang saya temui hampir sama dengan apa yang ditemukan oleh Fajar S Pramono yang dengan sangat teliti telah  menemukan berbagai kejanggalan dalam novel ini di reviewnya.

Terlepas dari berbagai kekurangan dan kejanggalan tersebut,  walau tak sempurna novel ini tetap memberikan kesan tersendiri  bagi saya dan patut mendapat perhatian bagi pembaca tanah air.  Novel ini  bukan hanya soal kasih tak sampai, kuatnya cinta, cemburu buta, kejamnya intrik bisnis, dan soal harga diri yang terungkap lewat kisah dan karakter tokoh-tokohnya, melainkan sebuah novel yang dalam kapasitasnya berusaha merekam sejarah perkembangan rokok kretek lengkap dengan sisi historis dan budayanya.  

@htanzil


Friday, April 27, 2012

Pemenang BBI 1st Giveaway Hop

Pemenang BBI 1st Giveaway Hop




BBI 1st Giveaway Hop yang diselenggarakan dalam rangka ulang tahun Blogger Buku Indonesia (BBI) yang pertama berakhir sudah. Hingga batas penutupan pd tgl 26 April 2012 pkl. 23.59 wib, Giveaway Hop di blog ini diikuti oleh 54 peserta yang menjawab pertanyaan yang saya ajukan yaitu :

"Selama ini buku karya penulis lokal atau penulis asing (terjemahan) yang kamu baca? dan sertakan alasannya kenapa selama ini buku karya penulis lokal or penulis asing yang paling banyak dibaca" 


dan berdasarkan undian berdasarkan random.org maka pemenang BBI 1st Giveaway Hop adalah :

Sdri. Fenny Herawaty Yusuf,  / http://fennyyusuf.blogspot.com

Selamat  ya!, dengan demikian Sdri. Fenny berhak mendapatkan sebuah buku inspiratif Playing "God" by Rully Roesli


Mohon Sdri. Fenny untuk memberikan alamat kirimnya ke email htanzil@gmail.com atau melalui DM twitter di @htanzil 

Apa saja jawaban dari ke 54 peserta Giveaway Hop kali ini? silahkan simak jawaban2 menariknya di sini

Demikian pengumuman pemenang BBI 1st Giveaway Hop, buat yang belum beruntung jangan kecewa, dan sampai jumpa di Giveaway Hop berikutnya..  "keep reading and blogging"

salam,
@htanzil


Monday, April 23, 2012

Wired for Intimacy

Review buku ini bisa dibaca disini

Judul : Wired for Intimacy (Dirancang untuk Keintiman) - Bagaimana Pornografi Membajak Otak Pria
Penulis : Dr. William M. Struthers
Penerjemah : Junaedy Lee, Handy Hermanto
Penerbit : Literatur Perkantas
Cetakan : I, Februari 2012
Tebal : 220 hlm

@htanzil

Friday, April 13, 2012

BBI 1 St Giveaway Hop

BBI 1 St Giveaway Hop


Dalam rangka memperingati hari ulang Tahun BBI (Blogger Buku Indonesia) yang jatuh pada hari ini ( 13 April 2012) 3 blogger buku yang tergabung dalam BBI yaitu Fanda, Oky, dan Maya mengagas Giveaway Hop. Sebagai kepedulian BBI-ers pada karya-karya lokal maka buku2 yg dijadikan giveaway adalah buku-buku karya penulis lokal.

Nah, Blog Buku Yang Kubaca juga ikut meramaikan BBI 1 St Giveaway Hop ini, dan buku yang akan dijadikan giveaway adalah sebuah buku yang sangat inspiratif yang sepertinya layak dibaca oleh kita semua yaitu buku




Apa isi buku Playing God? silahkan baca reviewnya disini

Lalu apa syarat untuk memperoleh buku ini?

1.  Terbuka untuk semua yang berdomisili di Indonesia
2.  Menjawab pertanyaan ini :

"Selama ini buku karya penulis lokal atau penulis asing (terjemahan) yang kamu baca? dan sertakan alasannya kenapa selama ini buku karya penulis lokal or penulis asing yang paling banyak dibaca" 

3.  Tiap peserta cukup menjawab satu kali saja di kolom komentar postingan ini
4.  Giveaway ini berakhir hingga tgl 26 april 2012 pkl. 23.59
5.  Pemenang giveaway akan ditentukan berdasarkan undian melalui random.org

Selain Blog ini ada lebih dari 30 blog buku yang juga mengadakan BBI 1 St Giveaway Hop. blog mana saja? silahkan pantau Agregator Blog BBI di http://blogbukuindonesia.blogspot.com/ atau di

di sini: http://hisficfanda.blogspot.com/2012/04/interview-bersama-ratih-kumala-bbi-1st.html

atau follow dan simak lini masa Twitter resmi BBI di @BBI_2011

@htanzil


Thursday, April 05, 2012

Anak Sejuta Bintang

Anak Sejuta Bintang

[No. 289]
Judul : Anak Sejuta Bintang
Penulis : Akmal Nasery Basral
Penerbit : Expose
Cetakan : I, Januari 2012
Tebal : 403 hlm

My rating 3 of 5 stars


Anak sejuta bintang adalah novel biografis seorang pengusaha sekaligus politikus terkenal Aburizal Bakrie karenanya tak heran ketika novel ini terbit , novel ini langsung menuai berbagai komentar baik itu komentar negatif maupun komentar positif. Yang positif mengatakan bahwa novel ini sangat berguna dan baik dijadikan dasar pengajaran anak, (NH Dini), yang negatif menilai novel ini diterbitkan dalam rangka pencitraan ‘Ical’ Aburizal Bakrie terkait rencananya untuk maju sebagai Capres 2014, bahkan sempat beredar isu  bahwa Ical pada awalnya berniat membayar milyaran rupiah pada seorang penulis terkenal untuk membuat novel ini.

Terkait dengan pemberitaan miring mengenai novel ini, penulis dan Aburizal Bakrie segera mengklarifikasikannya baik di social media maupun di blognya.  Akmal N Basral selaku penulis mengatakan dengan tegas bahwa novel ini bukanlah novel politik karena di novel ini Ical diceritakan apa adanya.

Sedangkan Aburizal Bakrie  dalam blog pribadinya menulis demikian :

Ternyata, novel “Anak Sejuta Bintang” ini jadi ramai diperbincangkan. Banyak juga yang tidak suka dan menyerang novel ini, saya, dan Akmal sebagai penulisnya. Ada yang bilang ini novel pencitraan yang sengaja saya buat untuk 2014, dan lain sebagainya. Ada juga yang bilang saya bahkan awalnya mau membayar novelis terkemuka dengan nilai miliaran. Ini kabar tidak benar.   - http://icalbakrie.com/?p=1607


Menurut penulis, dan penerbitnya novel ini memang bukan novel pesanan Ical melainkan lahir dari ide mantan sekretaris Ical yang berniat untuk memberikan kado unik berupa buku untuk ulang Tahun Ical yang ke 65. Ide ini  mendapat dukungan dari teman-teman dekat Ical dan penerbit Expose (Mizan Group). Mizan Group menjatuhkan pilihan pada Akmal Nasery Basral yang sudah bekerja sama dengan penerbit dalam menulis novel Biografis KH Ahmad Dahlan - Sang Pencerah (Mizan Pustaka, 2010) dan saat itu sedang menulis novel Presiden Prawiranegara. (Hikmah, 2010)

Novel Anak Sejuta Bintang setebal 403 halaman ini memang pada akhirnya bukan sebuah buku biografi murni melainkan sebuah kisah fiksi yang terinspirasi dari masa lalu Aburizal Bakrie, namun tidak seluruh kehidupan Ical yang menjadi dasar novel ini, penulis membatasi kisahnya hanya dengan menceritakan pengalaman masa kanak-kanak Ical, tepatnya semenjak TK hingga lulus SD (1951-1958.

Di novel ini dikisahkan bagaimana ketika Ical masih kecil, keluarga Bakrie yang kaya raya pernah mengalami kebangkrutan sampai-sampai keluarga ini harus mengontrak rumah untuk tinggal. Namun dalam kondisi seperti itu keluarga Bakrie tidak menyerah dan tetap mengajarkan hal-hal yang positif kepada anak-anaknya.
Walau telah menjadi pengusaha sukses kedua orang tua Ical tak larut dalam kesibukan mengejar materi, mereka  tetap mengutamakan komunikasi yang baik dengan anak-anaknya.

Anak laki-laki itu harus sering diajak ngobrol supaya terbiasa mengemukakan pendapat ... Kalau tidak, mereka akan terbiasa menggunakan tangan untuk menyampaikan keinginan. (Hal. 149)

Dengan pola asuh yang baik dan komunikasi yang intens antara orang tua dan anak tak heran jika Ical tumbuh menjadi anak yang baik dan berprestasi di sekolahnya, setiap tahun ia selalu menjadi juara kelas. Tak hanya pintar, Ical juga menjadi anak yang baik dan mengikuti teladan kedua orang tuanya dalam hal berbagi kepada teman-temannya. Saking baiknya Ical selalu meminjamkan kelerengnya pada teman-temannya yang kalah bermain kelereng. Sialnya teman-temannya tak pernah mengembalikan kelerengnya bahkan ketika Ical kalah ironisnya tidak seorangpun mau memberinya pinjaman kelereng. 

Kebaikan dan kepolosan Ical juga tercermin dalam kisah ketika Ical tanpa izin kedua orang tuanya memberikan anggur dan apel pemberian rekan ayahnya pada teman-temannya yang kurang mampu padahal saat itu anggur dan apel adalah makanan mewah bagi keluarga Bakrie sekalipun. 

Ical yang langganan juara kelas sejak kelas 1 hingga kelas 5 juga memiliki ambisi untuk tetap menjadi juara kelas hingga kelas 6 nanti. Mampukah Ical mempertahankan gelar juaranya? Pada akhirnya memang Ical menyadari bahwa bintang yang paling terang dalam kehidupannya bukanlah kepandaiannya atau ketika ia menjadi juara melainkan kedua orang tuanya.

“Bintang yang paling terang dalam kehidupan Ical adalah papa dan mama. Karena cahaya cinta papa dan mama sehingga Ical bisa menemukan cahaya bintang-bintang lainnya” (hlm. 399)

Novel ini juga mencerminkan keceriaan dan pengalaman-pengalaman menarik anak-anak pada umumnya, ada soal persahabatan, persaingan, bagaimana menghargai orang tua, , spirit mengejar cita-cita, dan sebagainya. Sayangnya semua hal diatas terkisahkan dengan datar-datar saja, kurang didramatisasi sehingga saya pribadi tidak begitu tergugah oleh kisah-kisah Ical kecil dalam novel ini.

Selain Ical sebenarnya ada satu tokoh yang menarik di novel ini, yaitu Raymond, anak mantan tentara KNIL yang pernah tinggal di Belanda. Raymond  dengan sombong selalu membanding-bandingkan kondisi di Belanda yang lebih baik dibanding di Indonesia. Dalam satu kesempatan dikisahkan Ical menegur kesombongan Raymond yang dianggapnya telah menghina pemainan bola Ical dan kawan-kawannya. Di luar dugaan Raymond tidak marah melainkan menjawab teguran Ical dengan rasional.

“Maaf, bukan menghina,” ujar Raymond.. “Kalian semua main bola dengan ini,” katanya sambil menunjuk kaki. “Bukan dengan ini,” katanya sambil menunjuk kepala. “Aku tidak menghina, aku bicara terus terang. Itu beda.” (hlm 292)

Sayang kehadiran Raymond ini kurang mendominasi di novel ini, padahal akan lebih menarik jika penulis terus menghadirkan tokoh Raymond yang sombong namun rasional ini sebagai tokoh antagonis sebagai penyeimbang tokoh Ical yang terkesan santun dan sangat baik sehingga novel ini akan semakin hidup dan menarik. 

Selain itu ada satu hal yang menurut saya keliru dalam novel ini yaitu ketika dikisahkan Ical dan adiknya sakit batuk, dokter mendiagnosa bahwa sakit ical dan adiknya adalah asma.

“Mungkin mereka tertular bukan dari orang tua, melainkan dari lingkungan sekitar yang ada penderita asmanya,” jawab Dokter Ghulam panjang lebar (hlm 64) 

Pendapat dokter Ghulam ini tentu saja salah, karena sesungguhnya penyakit Asma bukanlah penyakit menular melainkan penyakit keturunan. 

Wajah dan Suasana Jakarta tahun 50-an

Selain kisah masa kecil Ical, melalui novel ini juga kita dapat melihat wajah dan suasana Jakarta di tahun 50-an lengkap dengan situasi politiknya seperti tentang pemilu pertama di tahun 1955, lalu ada juga suasana perayaan 17 Agustus 1956 di Istana Negara yang dihadiri oleh Ical yang bersama teman-teman SD nya ditunjuk untuk menyanyikan lagu2 perjuangan di depan Bung Karno. Di bagian ini penulis menyertakan pidato Bung Karno yang menggelegar, walau bukan pidato aktual melainkan  telah diubah oleh penulisnya untuk kebutuhan novel ini tapi isi pidato itu tetap menghadirkan semangat dan kelihaian Bung Karno dalam berpidato. 

Satu hal yang menarik juga adalah munculnya peristiwa pencobaan pembunuhan terhadap bung Karno saat beliau menghadiri perayaan hari lahir Perguruan Cikini. Di bagian ini penulis mencoba mengisahkan peristiwa penggranatan itu dengan hidup lengkap dengan keterangan sembilan orang anak dan seorang ibu hamil yang tewas di tempat dan 100 orang korban luka berat.

Tidak hanya itu saja, penulis juga membeberkan pendapat yang berkembang beberapa waktu kemudian setelah peristiwa itu yang menyatakan bahwa motif asli pencobaan pembunuhan terhadap Bung Karno bukanlah motif politik melainkan karena … perempuan!, dimana setahun sebelum kejadian itu saat Bung Karno berkunjung ke Bima beliau mengucapkan kata-kata yang menembuat dendam orang Bima, dan  Bung Karno sempat pula menggoda wanita di sana. Fakta di pengadilan memang mengungkapkan bahwa pelaku penggranatan adalah orang Bima.

Novel best seller

Pada akhirnya dengan segala kelebihan, kekurangan, dan berbagai komentar miring tentang novel ini, novel ini telah menarik minat masyarakat Indonesia, hal ini terbukti dengan larisnya novel ini di pasaran. Penerbit Mizan di sebuah media online mengungkapkan bahwa novel ini masuk kategori best seller  dengan angka penjualan hampir 10 ribu eksemplar pada bulan pertama. Saat ini novel Anak Semua Bintang telah memasuki cetakan ke-3. Dua cetakan sebelumnya telah beredar di pasaran sebanyak 30 ribu ekslempar.

Dengan banyaknya yang membaca novel ini, terlepas apakah ini novel pencitraan atau bukan tentunya kita semua berharap semoga nilai-nilai positif yang dikisahkan dalam novel ini dapat menginspirasi pembacanya akan pentingnya pola pengasuhan anak seperti yang ditunjukkan oleh keluarga Bakrie dan nilai-nilai persahabatan sejati di dunia anak-anak yang saat ini tampaknya semakin langka ditemui terlebih pada saat kita semua telah dewasa. 

@htanzil
5/4/2012



Monday, March 19, 2012

Emeritus - Memoar Seorang Pendeta


Emeritus - Memoar Seorang Pendeta

[No. 288]
Judul : Emeritus - Memoar Seorang Pendeta
Penulis : Ita Siregar
Penerbit : Inspirasi
Cetakan : I, 2011
Tebal : 316 hlm

my rating 4 of 5 

“Saya adalah Hamba Tuhan. Status itu melekat dalam diri saya ketika menjadi penatua atau pendeta. Menjadi pendeta adalah pekerjaan mulia yang dikerjakan oleh orang-orang yang baik dan memiliki integritas yang tinggi. Pendeta tidak boleh salah. Keluarga Pendeta harus menjadi contoh. Begitulah idealnya” (hal 34)

Seperti kutipan diatas, begitu sering kita menganggap seorang pendeta adalah seorang pemimpin umat yang harus hidup suci seperti malaikat dan menjadi panutan. Sedikit saja ia melakukan kesalahan kita tidak bisa mentolerirnya padahal pendeta adalah manusia biasa yang memiliki pergumulan yang sama dengan kita. Walau ia tahu lebih banyak tentang Firman Tuhan ia tetap bisa berbuat salah dan jatuh dalam doa.

Novel Emeritus karya Ita Siregar ini yang merupakan novel biografis berdasarkan kisah nyata dari kehidupan seorang Pendeta besar di Indonesia yang identitasnya disamarkan. Novel  ini menceritakan bagaimana seorang pendeta yang awalnya membaktikan seluruh kehidupannya untuk Tuhan dan gerejanya akhirnya jatuh dalam dosa yang sangat tabu untuk dilakukan oleh seorang Pendeta.

Emeritus sendiri adalah sebuah status dalam kepemimpinan gereja yang artinya mirip dengan “pensiun” di dunia kerja.  Dalam struktur gereja  istilah emeritus diberikan pada pendeta yang tidak lagi menjabat dalam struktural kepemimpinan gereja karena faktor usia yang sudah lanjut.  Seorang pendeta yang sudah emeritus memiliki  gelar tambahan ‘Em’setelah gelar kependetaannya sehingga  gelarnya menjadi “Pdt. (em)”.

Namun bukan seperti itu pendeta yang dikisahkan dalam novel ini. Si Pendeta dalam novel ini menerima status emeritus bukan karena faktor usia melainkan karena ia mengundurkan diri dari gereja justru pada saat ia berada dalam puncak kariernya karena  ia merasa gagal mempertahankan keutuhan keluarganya,  jatuh dalam dosa perzinahan sehingga merasa tak lagi memiliki kelayakan dan kesanggupan untuk melayani dan memimpin gereja yang dirintisnya bersama teman-temannya.

Seluruh kehidupan si pendeta dalam buku ini terkisahkan dengan jujur, gamblang, dan apa adanya. Dengan rinci penulis menuturkan pengalaman yang dialami si pendeta ketika masih kecil, berpacaran, lahir baru, melayani di sebuah persekutuan kecil di gang Kemiri Jakarta hingga akhirnya bersama kedua temannya mimpin persekutuan kecil itu dengan penuh dedikasi sehingga berkembang menjadi gereja besar dengan ribuan umat dan dirinya menjadi salah satu penatua/pendeta yang disegani.

Dalam novel ini kita akan mendapat gambaran seorang pendeta bukan sebagai manusia super setengah malaikat melainkan seorang manusia yang memiliki pergumulan dan sisi gelap dalam kehidupannya. Dalam memimpin gereja ia seorang organisator yang ulung, 'gila kerja', jujur dan idealis hingga seluruh kehidupannya ia baktikan pada Tuhan dan gerejanya.

Walau ia berhasil mengembangkan gerejanya dengan luar biasa pesat, namun di sisi lain kehidupan rumah tangganya terabaikan. Sibuk di gereja membuat  waktu untuk keluarganya berkurang, istrinya merasa terabaikan  dan krisis kepercayaan mulai tumbuh bersamanya, belum lagi ditambah dengan kondisi keuangan yang tidak mendukung sehingga  menimbulkan konflik yang tak berkesudahan hingga akhirnya  rumah tangganya hancur karena istri termasuk kolega-kolega dalam gerejanya menuduhnya telah berzinah dengan seorang wanita.

Keadaan ini memaskanya untuk mengundurkan diri dari gereja yang dirintisnya, hal ini membuat kehidupannya semakin terpuruk sehingga membuat si pendeta menjauh dari Tuhan dan hidup dalam dunia malam berpindah-pindah dari pelukan satu wanita ke wanita lainnya.

Novel ini menarik untuk disimak karena dengan jujur novel ini mengisahkan sisi terang dan sisi gelap seorang pendeta secara apa adanya. Di novel ini kita akan diajak melihat pergumulan batin seorang pendeta besar yang sukses namun hidup dalam kesederhanaan, menolong banyak orang dalam kesulitan, namun gagal dalam membangun keluarganya sendiri.

“Saya sempat diwawancara suatu majalah dengan tiras terbaik negeri ini yang menganggap saya sosok pahlawan dalam penanggulangan kasus narkoba. Ya saya mungkin menyelamatkan orang-orang di luar sana. Tetapi saya gagal merawat diri sendiri dan keutuhan keluarga” (hal 43)

Tak hanya pergumulan dan kisah jatuh bangunnya si pendeta yang terungkap di novel ini, novel ini juga mengungkap fenomena bertumbuhnya gerakan kerohanian di Indonesia di tahun 1970-1980an yang diawali bertumbuhnya gerakan persekutan-persekutuan di kalangan anak muda

 “Gerakan ini sangat kuat dan di Jakarta ratusan persekutuan dibuka. Persekutuan merebak seperti virus. Orang begitu gemar berkumpul. Berkembangnya persekutuan diikuti dengan munculnya pemimpin-pemimpin muda. Yeremia Rim, Niko Nyotoraharjo, Daniel Alexander, adalah nama-nama yang akrab waktu itu. Mereka menyampaikan pesan segar kepada umat . Kata-kata yang disampaikan menyentak, menyentuh, dan membangun jiwa umat yang selama ini melakukan ritual ibadah rutin dan cenderung membosankan” (hal 92)

Tak hanya itu saja,  novel ini juga dengan blak-blakan menyindir kehidupan pemimpin organisasi2 keagamaan yang haus akan uang.

“Kalangan agamawan punya kesempatan untuk korup juga. Mungkin lebih aman daripada lembaga-lembaga lain dan publik akan lebih enggan untuk menyelidiki kebenarannya. Puncak pimpinan merupakan jabatan strategis untuk meraih apa yang diinginkan. Kekuasaan tidak punya agama. Ia bisa dipakai siapa saja, yang beragama dan tidak. Semua mempunyai kesempatan yang sama” (hal 204)

Demikianlah novel ini memberikan banyak hal pada pembacanya untuk dimaknai.  Sayangnya ada dua hal yang bagi saya pribadi agak mengganjal yaitu ketika kisah bergulir saat si Pendeta terjerumus dalam dunia malam, penulis tampaknya  terlalu asik menyuguhkan petualangan si pendeta dalam dosanya sehingga di bagian ini konflik batin si pendeta tak tereksplorasi seperti di bab-bab sebelumnya. Di bagian ini si pendeta seolah telah melupakan Tuhan sama sekali, padahal akan lebih menarik jika di bagian ini dikisahkan terjadi pergumulan yang hebat dalam batinnya ketika melakukan sedang melakukan dosa .

Satu hal lagi adalah adalah tidak adanya kata pengantar dari penulis atau penerbit yang menjelaskan apakah novel ini merupakan fiksi murni atau berdasarkan kisah nyata dari seorang pendeta besar? Dengan demikian pembaca yang tidak mengetahui proses kreatif dari lahirnya novel ini akan bertanya-tanya apakah ini fiksi murni atau adaptasi dari sebuah kisah nyata?

Terlepas dari itu novel ini pastinya akan membangun kesadaran kita bahwa kehidupan seorang pendeta  itu tidak mudah, ia dituntut untuk mengelola gereja dan menggembalakan umatnya, namun ia juga harus bisa membangun keutuhan keluarganya.  Itu bukan hal yang mudah.

Pendeta adalah manusia yang bisa saja berbuat salah. Pendeta juga memiliki pergumulannya tersendiri, mungkin selama ini kita langsung menghakimi atau antipati terhadap seorang pendeta yang jatuh dalam dosa, namun dengan membaca novel ini kita akan disadarkan bahwa pasti ada sebab dari semua itu dan sama seperti kita, pendetapun membutuhkan perhatian, dorongan,semangat, dan doa ketika ia sedang menghadapi masalah pelik atau jatuh dalam dosa.

Kita membutuhkan pendeta untuk membimbing kerohanian kita, untuk memberi nasehat, penghiburan,  dan mendoakan kita ketika kita sedang dalam pergumulan.  Demikian juga dengan pendeta, merekapun membutuhkan dukungan  doa dan perhatian kita ketika mereka mengalami pergumulan seperti yang yang kita alami.

@htanzil